Harrysurjadi's Blog

Environmental news

Archive for January 2013

Ekonomi Komunitas

leave a comment »

Sejak partai-partai mengumumkan calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) mereka, pernyataan paling banyak adalah mengenai isu ekonomi. Semua pasangan mencoba membangun citra mereka yang peduli pada rakyat dengan menempelkan kata “ekonomi” dengan kaa “rakyat,” menjadi jargon kampanye tiga pasangan capres-cawapres.

Kata-kata “neo-kapitalis” ikut muncul ketika SBY mengumumkan Boediono sebagai cawapresnya. “Neo-kapitalis” seakan-akan lawan kata dari “ekonomi kerakyatan.” Boediono¬† dan tim kampanye SBY-Boediono “mati-matian” membantah tuduhan itu dengan segala jurus, informasi, dan data, yang menunjukkan bahwa Boediono juga berperspektif “ekonomi kerakyatan.” Selain JK-Wiranto, pasangan Mega-Prabowo ikut menyanyikan lagi “ekonomi kerakyatan” atau ekonomi yang pro-rakyat. Tapi, sejauh ini, tidak ada penjelasan utuh mengenai “ekonomi kerakyatan” yang dimaksud tiga pasangan capres-cawapres itu.

Adalah Julie Graham (http://www.communityeconomies.org/people/Julie-Graham) dan Katherine Gibson dalam buku mereka, A Postcapitalist Politics (2006 – http://www.upress.umn.edu/book-division/books/a-postcapitalist-politics), yang memperkenalkan ekonomi komunitas sebagai alternatif ekonomi non-kapitalis sesungguhnya. Bentuk ekonomi mandiri yang mencoba mengurangi ketergantungan pada ikatan ekonomi global dan nasional serta pengaruh buruk pergerakan kapital.

Apa bedanya ekonomi komunitas dengan ekonomi arus utama, yang dominan saat ini? Dua bentuk ekonomi ini sangat kontras satu dengan lainnya. Ekonomi komunitas melekat pada tempat atau lokasi, sedangkan ekonomi arus utama berskala global atau berdasarkan spasial. Ekonomi arus utama terspesialisasi. Misalnya, perusahaan otomotif hanya berbisnis otomotif. Sedangkan ekonomi komunitas bervariasi, tidak hanya satu rupa. Ekonomi arus utama berskala besar, kompetitif, dan terpusat. Ekonomi komunitas berskala kecil, mengedepankan kerja sama, dan terdesentralisasi.

Ekonomi arus utama berada di luar budaya, tidak melekat secara sosial, jauh berbeda dari ekonomi komunitas yang sangat berdasarkan budaya dan melekat secara sosial. Pemilik ekonomi komunitas adalah masyarakat lokal dan menyebar. Ekonomi arus utama tidak memiliki masyarakat lokasl dan pengumpul (agglomerative).

Ekonomi arus utama berorientasi ekspor, sedangkan ekonomi komunitas berorientasi pasar lokal. Investasi ekonomi komunitas berjangka panjang, sedangkan ekonomi arus utama lebih mementingkan pengembalian modal jangka pendek. Ekonomi arus utama berorientasi pada pertumbuhan, ekstraktif, dan mengalirkannya ke luar sumber daya yang diekstrak. Ekonomi komunitas lebih berorientasi pada vitalitas dan menyirkulasi sumber daya di wilayah lokal.

Ekonomi komunitas adalah milik komunitas dan dikendalikan komunitas. Ekonomi arus utama dimiliki pemodal yang dikelola oleh manajemen dan dikendalikan pemilik modal. Ekonomi komunitas berkelanjutan dari segi lingkungan, mengutamakan etika, harmonisasi dan percaya yang lokal. Sebaliknya, ekonomi arus utama tidak berkelanjutan dari segi lingkungan, terfragmentasi, amoral, dan mengandalkan krisis.

Ekonomi komunitas memanfaatkan sumber daya lokal untuk memenuhi kebutuhan komunitas, bukan untuk memenuhi permintaan pasar yang jauh. Harga komoditas global tidak menentukan produk apa yang akan mereka hasilkan. Tidak seperti bentuk ekonomi sekarang ini. Ketika harga kopi dunia naik, pertani berbondong-bondong menanam kopi. Ketika harga cokelat jatuh, petani menebang pohon kakao mereka.

Richard Douthwaite mencirikan ekonomi komunitas, terkait dengan kelestarian lingkungan, harus berkelanjutan dengan memanfaatkan sumber daya alam sebatas kebutuhan komunitas, dan setiap siklus produksi bisa bertahan lebih dari 100 tahun tanpa merusak ekologi. Ekonomi komunitas tidak bisa mengandalkan pertumbuhan ekonomi untuk mempertahankan kesejahteraan.

Apakah mungkin ekonomi komunitas? Masyarakat Baduy adalah bukti praktik ekonomi komunitas. Komunitas Baduy memenuhi kebutuhan hidup tanpa bergantung pada ekonomi di luar komunitas.

Dalam format yang lebih maju adalah kelompok gerakan petani organik. Mereka berupaya memenuhi lebih dahulu kebutuhan sendiri. sisa penenan barulah dibarter atau dijual ke komunitas konsumen.

Memang bentuk ekonomi komunitas tidak bisa murni seperti yang dipraktikkan komunitas Baduy. Bagaimanapun, setiap komunitas masih akan bergantung pada komunitas lainnya. Hal paling mendasar yang barus dipenuhi komunitas pelaku ekonomi komunitas adalah kebutuhan akan pangan. Lalu, dalam skala kecil, komunitas-komunitas bisa saling mendukung. Untuk satu produk tertentu, komunitas A adalah produsen. Tetapi untuk produk lainnya, komunitas A adalah konsumen.

Ekonomi komunitas sangat pas untuk masyarakat Indonesia, yang terdiri dari komunitas-komunitas. Ketika masyarakat tidak bisa menunggu kesejahteraan yang dijanjikan negara (pemerintah), menentukan nasib sendiri melalui ekonomi komunitas memberikan kepastian kehidupan yang lebih baik.

(Tulisan ini dimuat di Majalah Gatra, No 35 Tahun XV, 9-15 Juli 2009)

(8c) Gatra Ekonomi Komunitas

Advertisements

Written by Harry Surjadi

8 January 2013 at 16:29

%d bloggers like this: