Harrysurjadi's Blog

Environmental news

Archive for the ‘Environment in General’ Category

Plastik Mikro: Ancaman Tidak Kasat Mata

leave a comment »

Microplastic poses a growing concern in oceans and other aquatic habitat - Credit - Image by 5Gyres, courtesy of Oregon State University

Penampakan plastik mikro yang mendapat julukan Air Mata Duyung (Credit: 5Gyres, courtesy of Oregon State University)

Alexander Parks tidak membayangkan kalau yang namanya plastik merasuk ke setiap hidup manusia di dunia saat pertama kali tahun 1862 ia memperkenalkan cellulose nitrate dengan nama dagang Parkesine. Temuan Parks itu menjadi pembuka jalan berbagai jenis plastik dengan berbagai fungsi.

Plastik adalah bahan atau material terbuat dari bahan organik sintetis atau semisintetis yang bisa dibentuk atau dicetak menjadi berbagai macam benda bersifat lunak, elastik, atau rigid. International Union of Pure and Applied Chemistry mendefinisikan plastik sebagai istilah umum yang digunakan untuk bahan polimerik (polymeric) yang mengandung substansi lain untuk meningkatkan performa dan/atau mengurangi biaya.

Kata plastic berasal dari kata Yunani plastikos – yang bermakna “bisa dibentuk” – dan plastos – yang bermakna “dicetak.” Kemudian diserap ke dalam bahasa Latin menjadi plasticus – bisa dicetak dan dibentuk dan bahasa Perancis plastique. Karakteristik plastik – antara lain mudah dibuat, biaya murah, tahan air, tahan bahan kimia, tahan temperatur, dan cahaya – membuat plastik sangat ideal menggantikan bahan-bahan lain seperti kayu, kertas, batu, kulit, logam, beling, dan keramik.

Sekarang hidup manusia penuh dengan materi plastik. Berbagai piranti kerja – komputer dan keyboard-nya, ballpoint, printer, bahkan pesawat ruang angkasa – terbuat dari plastik. Tekstil, sabuk, sepatu, kancing baju, hingga kosmetik mengandung unsur plastik. Hidup manusia dikelilingi plastik.

Hampir semua kemasan terbuat dari plastik atau ada unsur plastiknya. Lemper ayam di bagian paling luar dibungkus plastik. Setelah itu ada bungkus kertas, selanjutnya bungkus plastik, dan terakhir baru daun pisang. Alat makan – sendok-garpu, gelas, piring – terbuat dari plastik. Air minum dikemas dalam botol plastik.

Produksi air minum dalam kemasan tahun 2017, menurut Asosiasi Perusahaan Air Minum dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) seperti dilaporkan Kontan, 27 miliar liter. Sebanyak 60% (16,2 miliar liter) dalam bentuk kemasan galon dan 40% (10,8 miliar liter) dalam botol. Kalau dikonversi tahun 2017 terjual 1 miliar galon air dan (jika botol air kapasitas 750 mililiter) 14,4 miliar botol. Angka perhitungan sederhana itu baru data air putih, tidak termasuk minuman dalam kemasan lainnya. Ke mana perginya botol plastik itu setelah diminum isinya?

Seperti dilaporkan di Science Advance 19 Juli 2017, para ahli memperkirakan hanya 9% dari sampah plastik didaur ulang, 12% dibakar, dan 79% berakhir di tempat pembuangan akhir atau di alam. Angka-angka itu data global. Seandainya data di Indonesia sama dengan data global, berarti ada sekitar 11,4 miliar botol plastik berakhir di tempat pembuangan akhir, di sungai, di laut dan di berbagai sudut alam Indonesia.

Para peneliti menghitung hingga tahun 2015, manusia telah memproduksi 8,3 miliar ton plastik dan 6,3 miliar ton menjadi sampah. Jika tingkat produksi saat ini berlanjut, mereka memperkirakan tahun 2050 manusia menghasilkan 12 miliar ton sampah plastik. Dua belas miliar ton itu sama beratnya dengan gedung Empire State di Amerika setinggi 443 meter itu.

Botol plastik, kantong plastik kresek, plastik transparan pembungkus dan berbagai produk terbuat dari plastik setelah menjadi sampah plastik makro dan meso, masih terlihat mata telanjang. Kekhawatiran besar saat ini adalah plastik ukuran mikro atau plastik mikro (diameter kurang dari 5 mm) dan plastik nano (diameter kurang dari 100 nanometer). Satu milimeter sama dengan 1.000 mikrometer atau 1 juta nanometer.

Tabel 1. Berbagai jenis plastik dan pemanfaatannya

Jenis plastik Pemanfaatannya
Low-density polyethylene (LDPE) Packaging, general purpose container, shower curtains, floor tiles
Polyethylene (PE) Supermarket bags, plastic bottles
High-density polyethylene (HDPE) Milk containers, detergent bottles, tubing
Polystyrene (PS) Packaging foam, disposable cups, food containers, CDs, building materials
High impact polystyrene (HIPS) Electronics, cups in vending machines, refrigerator liners
Polyvinyl chloride (PVC) Pipes, window frames, flooring, shower curtain
Polypropylene (PP) Packaging, bottle caps, ropes, carpets, laboratory equipment, drinking straws
Polyamides (PA = nylons) Textiles, toothbrush bristles, fishing lines, automotive
Acrylonitrile butadiene styrene (ABS) Musical instruments, printers, computer monitors, drainage pipes, protected equipment
Polycarbonate (PC) CDs, DVDs, construction materials, electronics, lenses
Polyester (PES) Textiles
Polyethylene terephthalate (PET) Soft drink bottles, food packaging, thermal insulation, blister packs

Sumber dari buku: “Characterization and Analysis of Microplastics” tahun 2017 oleh Teresa A.P. Rocha-Santos, Armando C. Duarte (editors)

Bulan Maret 2018, Orb Media bersama 12 media di dunia, termasuk Tempo, melaporkan air dalam kemasan botol plastik mengandung plastik mikro. Peneliti dari State University of New York di Fredonia menguji 259 air dalam kemasan botol plastik dari 11 merek di dunia. Mereka menemukan 93% sampel mengandung plastik mikro, termasuk produk dari Indonesia.

Tempo melaporkan peneliti dari New York menguji 30 sampel botol Aqua yang dibeli di Jakarta, Bali, dan Medan. Para peneliti menemukan rata-rata setiap sampel air botolan produk Aqua mengandung 382 partikel plastik mikro per liter. Plastik mikro itu berukuran 6,5 mikrometer (seukuran sel darah merah) hingga paling besar 100 mikrometer (sama dengan diameter rambut manusia). Jumlah plastik mikro dari satu sampel paling banyak 10.390 partikel per liternya.

Tempo bermitra dengan laboratorium kimia Universitas Indonesia – selain Aqua – menguji juga air dalam kemasan botol plastik lain yaitu Le Minerale dan Club. Sembilan air dalam kemasan botol plastik volume 600 ml dibeli di minimarket, kios-kios kecil, dan pedagang pinggir jalan. Hasilnya, sampel-sampel itu mengandung plastik mikro berukuran paling kecil 11 mikrometer hingga 247 mikrometer. Partikel paling kecil berukuran 8 mikrometer, lebih kecil dari ukuran sel darah.

Hasil riset Tempo menunjukkan plastik mikro mencemari juga air keran di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang Selatan dan Bekasi. Dari 21 sampel (satu sampel rata-rata 500 mililiter) dari air keran di lima kota, 76% terkontaminasi plastik mikro. Dari pengakuan sebagian besar responden yang diambil air kerannya, meminum air itu.

Plastik mikro

Plastik mikro adalah partikel plastik berukuran milimeter atau lebih kecil dari 5 mm. Beberapa peneliti mengkategorikan plastik mikro berukuran lebih kecil dari 1 mm, atau lebih kecil dari 2 mm, atau antara 2-6 mm, dan kurang dari 10 mm. Plastik mikro dijuluki juga sebagai “air mata duyung” karena ukurannya dan warna-warninya.

Dari mana asal plastik mikro ini? Plastik mikro dibagi menjadi dua yaitu plastik mikro primer dan sekunder. Plastik mikro primer adalah plastik yang memang diproduksi dengan ukuran milimeteran atau lebih kecil lagi. Plastik mikro primer ini digunakan dalam pasta gigi, pembersih wajah, berbagai jenis krim, maupun obat. Produk mengandung plastik mikro ini setelah digunakan akan terbuang ke saluran air limbah.

Plastik mikro sekunder berasal dari materi plastik lebih besar yang terpecah atau terpotong-potong menjadi ukuran lebih kecil. Terpotong atau terpecah karena proses fisik, biologi, maupun kimia. Sumber plastik mikro sekunder ini dari tekstil atau pakaian saat dicuci.

Plastik ukuran mikro ini bukan hanya ada di tanah atau di laut atau di sungai atau di sumber-sumber air, plastik mikro ini ada di udara, seperti penelitian Joana Correia Prata dari University Fernando Pessoa, Portugal. Karena ukurannya yang kecil, butir-butir plastik ini bisa masuk ke saluran pernafasan dan akan berdampak pada kesehatan. Joana meneliti partikel plastik di Kota Paris.

Plastik mikro primer terutama berasal dari kosmetik. Tanpa sadar – karena ketidaktahuan – konsumen membeli dan menggunakan kosmetik mengandung plastik mikro. Konsumen tidak membayangkan apa yang akan terjadi saat plastik mikro dari kosmetik terbuang ke saluran air dan kembali ke konsumen saat meminum air kemasan dalam botol.

Plastic Soup Foundation (organisasi nirlaba dari Belanda) dan Lembaga PBB UNEP – United Nations Environmental Programme – melalui program kampanye “Beat the Micro Bead” menyajikan daftar produk-produk kosmetik yang mengandung plastik mikro dan yang tidak. Program global ini secara acak menguji produk-produk kosmetik apakah mengandung plastik mikro atau tidak.

Tabel 2. Daftar Produk Kosmetik di Indonesia yang Mengandung Plastik Mikro

Scrubs/Peelings
Brand/Concern Producer Product Name Ingredient
Biore Kao Body Foam Whitening Polyethylene (PE)
Cottage Caramel Exfoliating Shower Gel with Sugar Polyethylene (PE)
Cottage Vanilla Gentle Exfoliatin Shower Gel Polyethylene (PE)
Garnier L’Oreal Men’s 12-in-1 AcnoFight Scrub in Foam Polyethylene (PE)
Herbolist Lulur Tradisional Bali (all variant) Polyethylene (PE)
Himalaya Herbals Gentle Exfoliating Daily Face Wash Polyethylene (PE)
Himalaya Herbals Purifying Neem Face Wash Polyethylene (PE)
Iria Iria Goat’s Milk Whitening Body Scrub (all variant) Polyethylene (PE)
L’Affair Seaweed Shower Scrub Whitening Polyethylene (PE)
L’Affair Apricot Shower Scrub Whitening Polyethylene (PE)
L’Affair Green Tea Shower Scrub Whitening Polyethylene (PE)
Mustika Ratu Jasmine Melati Body Scrub Polyethylene (PE)
Mustika Ratu Coffee Kopi Body Scrub Polyethylene (PE)
Mustika Ratu Rose Mawar Body Scrub Polyethylene (PE)
Palmolive Colgate-Palmolive Company Body Butter Coconut Scrub Polyacrylate
Purbasari Lulur Mandi Susu Polyethylene (PE)
Purbasari Lulur Mandi Aromatherapy (all variant) Polyethylene (PE)
Sariayu Eksotika Tanjung Tanjung Body Scrub Polyethylene (PE)
Sariayu Putih Langsat Lulur Spa 2 in 1 Polyethylene (PE)
Satto Body Scrub Enriched with Orange Whitening Polyethylene (PE)
Satto Body Scrub Enriched with Vitamin C Whitening Polyethylene (PE)
Secret Clean Banana Body Scrub Polyethylene (PE)
Secret Clean Mango Body Scrub Polyethylene (PE)
Shinzu’i Shinzu’I Skin Lightening Body Scrub (all variant) Polyethylene (PE)
Sumber Ayu Lulur Mandi (all variant) Polyethylene (PE)
Taman Sari Papaya Enzime Series Body Scrub Polyethylene (PE)
Taman Sari Foot Series Foot Scrub Polyethylene (PE)
Trustee Sulfur Soap Plus Polyethylene (PE)
Vienna Whitening Body Scrub Chocolate Spa Nourishing Polyethylene (PE)
Vienna Whitening Goat’s Milk Body Scrub Lulur Susu Kambing (all variant) Polyethylene (PE)
Viva Lulur Mandi (all variant) Polyethylene (PE)
Vivelle Lulur Mandi Body Scrub (all variant) Polyethylene (PE)
Wardah Wardah Facial Scrub pH Balance Polyethylene (PE)
Wardah Wardah Peeling Cream Polyethylene (PE)
Watsons Naturals by Watson Olive Body Scrub Polyethylene (PE)
Facial Cleanser
Acnes Natural Care Deep Pore Cleanser Facewash Polyethylene (PE)
Clean & Clear Johnson & Johnson Fruit Essentials with Bursting Beads Polyethylene (PE)
Clean & Clear Johnson & Johnson Deep Action Daily Pore Cleanser Polyethylene (PE)
Clean & Clear Johnson & Johnson Active Clear Acne Marks Cleanser Polyethylene (PE)
Clean & Clear Johnson & Johnson Clean Fairness Cleanser Polyethylene (PE)
Himalaya Herbals Clear Complexion Whitening Face Wash Polyethylene (PE)
Showe/Bath
Cempaka Cempaka Bali Spa Collection (all variant) Polyethylene (PE)
Giv Wings Indonesia White Fine Fragrance Body Wash Polyethylene (PE); Polyethylene/Acrylate copolymer
Palmolive Colgate-Palmolive Company Men’s Deep Clean Shower Gel Polystyrene/Acrylate copolymer
Palmolive Colgate-Palmolive Company Body Butter Peppermint Crush Exfoliating Body Wash Polyacrylate
Toothpaste
Colgate Colgate-Palmolive Company Triple Action Original Mint Polyethylene-glycol
Colgate Colgate-Palmolive Company Max Fresh Cool Mint with Mini Breath Strips Polyethylene-glycol

 

Tabel 3. Daftar Produk Kosmetik yang Selam ini Masih Mengandung Plastik Mikro

Scrubs/Peelings
Brand/Concern Producer Product Name Ingredient
Pond’s Unilever Pond’s No Blackheads Deep Cleansing Facial Scrub Polyethylene (PE)
Pond’s Unilever Pond’s Men White Boost Face Scrub Polyethylene (PE)
Pond’s Unilever Pond’s Clear Solutions Anti-Bakterial Facial Scrub Polyethylene (PE)
Yves Rocher Yves Rocher Yves Rocher Exfoliant Corps Body Exfoliant (all variant) Polyethylene (PE)
Facial Cleanser
Citra Unilever Citra Hazeline Spotless White Glow Facial Foam Polyethylene (PE)
L’Oreal L’Oreal Man Polyethylene (PE)
L’Oreal Men Expert L’Oreal Pure & Matte Charcoal Black Scrub Deep Action Polyethylene (PE)
Olay Procter & Gamble White Radiance Purifying Foaming Cleanser Polyethylene (PE)
Pond’s Unilever Pond’s White Beauty Sund Dullness Removal Daily Facial Scrub Polyethylene (PE)
Pond’s Unilever Pond’s Oil Control Skin Mattifying Facial Foam Polyethylene (PE)
Pond’s Unilever Pond’s Acne Clear White Polyethylene (PE)
Vaseline Unilever Vaseline MENface Antispot Whitening Face Wash Anti-Aging Polyethylene (PE)
Vaseline Unilever Vaseline MENface Antispot Whitening Face Wash Anti-Acne Polyethylene (PE)
Vaseline Unilever Vaseline MENface Antispot Whitening Face Wash Anti-Dullness Polyethylene (PE)

 

Tabel 4. Produk Kosmetik yang Tidak Mengandung Plastik Mikro

Scrubs/Peelings
Brand/Concern Producer Product Name Zero
B&N Pomegranate Essence Face & Body Scrub  
Bali Alus Traditional Spa Essential Scrub with VCO (all variant)  
Bali Alus Traditional Balinese Body Scrub  
Biore Kao Biore Facial Foam Double Scrub Bright  
Dewi Sri Spa Whitening Body Scrub  
Dewi Sri Spa   Body Contour Body Scrub  
Dewi Sri Spa   Reviving Body Scrub  
Hada Labo Tamagohada Mild Peeling Make-Up Remover Face Wash  
Mustika Ratu Bengkoang Whitenning Lulur Krem Body Scrub  
Nivea Beiersdorf Nivea Men Oil Control Face Scrub  
Original Source Cussons Body Butter Vanilla and Raspberry  
Original Source Cussons Body Butter British Strawberry  
Original Source Cussons Super Scrub Mint and Walnut  
Ovale Lulur Bali (Milk, Honey Coconut, Bengkoang)  
Pixy Mandom Beauty Facial Foam Anti-Acne  
Pixy Mandom Beauty Facial Foam Matte & Bright  
Pixy Mandom Beauty Facial Foam Brightening  
Pond’s Unilever Pond’s White Beauty Naturals Gentle Exfoliating Foam  
Ratu Mas Lulur Kocok Seruni  
Surya Brasil Vedic Hindus Ind. Com. Imp e Exp. Ltda Esfoliante corporal com casca de coco e buriti organico  
The Body Shop L’Oreal Honeymania Body Scrub  
The Body Shop L’Oreal Coconut Body Scrub  
The Body Shop L’Oreal Cocoa Butter Cream Body Scrub  
The Body Shop L’Oreal Chocomania Sugar Body Scrub  
The Body Shop L’Oreal Spa Fit Smoothing Refining Scrub  
The Body Shop L’Oreal Shea Body Scrub  
The Body Shop L’Oreal Moringa Body Scrub  
The Body Shop L’Oreal Pink Grapefruit Body Scrub  
The Body Shop L’Oreal Mango Body Scrub  
The Body Shop L’Oreal Raspberry Body Scrub  
The Body Shop L’Oreal Africa Ximena Salt Scrub  
The Body Shop L’Oreal Olive Body Scrub  
Facial Cleanser
Acnes Natural Care Oil Control Facewash  
Acnes Natural Care Yogurt Touch Facewash  
Acnes Acnes Creamy Wash  
Acnes Natural Care Complete White Facewash  
Biore Kao Biore Makeup Remover Daily Color Clear  
Biore Kao Biore Facial Foam Glowing Bright  
Biore Kao Biore Facial Foam Pore & Oil Clear  
Biore Kao Biore Facial Foam Anti-Bacterial Bright  
Biore Kao Men’s Facial Foam Acne Defence  
Biore Kao Biore Facial Foam Acne Care  
Caring Colours Fair White Facial Foam  
Cherrybelle Cherrybelle Facial Foam  
Citra Unilever Citra Pink Orchid Facial Foam  
Citra Unilever Citra Hazeline Pearly White Facial Foam  
Clean & Clear Johnson & Johnson Essentials Foaming Facial Wash  
Clean & Clear Johnson & Johnson Deep Action Cleanser  
Clean & Clear Johnson & Johnson Active Clear Acne Clearing Cleanser  
Garnier L’Oreal Garnier Men Intensive Brightening Foam  
Garnier L’Oreal Garnier Multi-Action Foam  
Garnier L’Oreal Light Complete Multi-Action Brightening Foam  
Garnier L’Oreal Duo Clean Whitening + Smoothening Foam  
Garnier L’Oreal Sakura White Pinkish Radiance Gentle Foam  
Garnier L’Oreal Duo Clearn Whitening + Oil Control Foam  
Garnier L’Oreal Duo Clean Whitening + Pore Minimizing  
Hada Labo Gokujyun Ultimate Moisturizing Face Wash  
JF JF Mild Care Facial Wash  
JF JF Acne Care Facial Wash  
Kracie Naïve Kracie Naïve Facial Cleansing Foam (all variant)  
L’Oreal L’Oreal Men Expert Hydra Energetic Skin Awekening ICY Cleansing Gel  
L’Oreal Men Expert L’Oreal Pure & Matte Charcoal Black Foam Icy Effect  
L’Oreal Men Expert L’Oreal Hydra Energetic Skin Awakening Icy Cleansing Gel  
L’Oreal Men Expert L’Oreal White Active Bright + Oil Control White Foam  
L’Oreal Men Expert L’Oreal Vita Lift Revitalising Foam  
L’Oreal Men Expert L’Oreal White Active Total Skin Renewer Volcano Red Foam  
Men’s Biore Kao Men’s Biore Double Scrub Facial Foam Cool Oil Clear  
NBC Acne Facial Foam  
Nivea Beiersdorf Nivea Men Whitening Oil Control Recharge Facial Scrub  
Nivea Men Beiersdorf Nivea Visage Sparkling White Whitening Foam  
Nivea Men Beiersdorf Nivea Men Whitening Cooling Volcanic Mud Foam  
Nivea Men Beiersdorf Nivea Men Advanced Whitening Anti Dark Spot Facial Foam  
Nivea Men Beiersdorf Nivea Men Essentials Multi Protecting Foam  
Nivea Men Beiersdorf Nivea Men Oil Control Acne Clear Facial Foam  
Pigeon Pigeon Facial Foam  
Pond’s Unilever Pond’s Pure White Deep Cleansing Facial Foam  
Pond’s Unilever Pond’s White Beauty Lightening Facial Foam  
Pond’s Unilever Pond’s Flawless White Deep Whitening Facial Foam  
Pond’s Unilever Pond’s Age Miracle Cell ReGEN Facial Foam  
Pond’s Men Unilever Pond’s Men energy Charge Face Wash  
Pond’s Men Unilever Pond’s Men Pollution Out All-in-One Deep Cleanser  
Pond’s Men Unilever Pond’s Men Oil Control Face Wash  
Sariayu Busa Pembersih Jerawat Acne Care Facial Foam  
Surya Brasil Vedic Hindus Ind. Com. Imp e Exp. Ltda. Esfoliante facial com casca de coco e buriti organico  
Surya Brasil Vedic Hindus Ind. Com. Imp e Exp. Ltda. Esfoliante facial a base de hidratante vegetais  
Surya Brasil Vedic Hindus Ind. Com. Imp e Exp. Ltda. Exfoliating shower gel with essential oil of the preciosa tree acai and essential organic oil  
The Fuk The Fuk Washing Cream 1  
Vaseline Unilever Vaseline MENface Antispot Whitening Face Wash Healthy White  
Vaseline Unilever Vaseline MENface Antispot Whitening Face Wash Spot Removal  
Vaseline Unilever Vaseline MENface Antispot Whitening Face Wash Oil Control  
Verile Acne Care Facial Wash  
Wardah Wardah Lightening Gentle Wash  
pHisoHex pHisoHex  
Shower/Bath
Biore Kao Biore Body Foam Daily Antiseptic Plus  
Biore Kao Biore Body Foam Lively Refresh  
Citra Unilever Citra Spotless White Body Wash  
Citra Unilever Citra Lasting White Body Wash  
Citra Unilever Citra Pearly White Body Wash  
Dove Unilever Go Fresh Nourishing Body Wash  
Dove Unilever Deeply Nourishing Nourishing Body Wash  
Dream Dream Honey & Shea Butter Body Wash  
Lux Unilever Lux Magical Spell  
Lux Unilever Lux Secret Bliss  
Lux Unilever Lux Soft Touch  
Lux Unilever Lux Velvet Touch  
Lux Unilever Lux Aqua Sparkle  
Lux Unilever Lux Fresh Splash  
Nature Nature White Skin Lightening Bodywash (all Variant)  
Oilum Oilum Collagen Body Wash  
Palmolive Colgate-Palmolive Company Hydrating Sea Minerals With Moisture Beads Shower Gel  
Palmolive Colgate-Palmolive Company Rich Moisture Milk & Honey Shower Milk  
Shinzu’i Shinzu’I skin Lightening Body Cleanser (all variant)  
Surya Brasil Vedic Hindus Ind. Com. Imp e Exp. Ltda. Sabonete liquido shower gel  
The Body Shop L’Oreal Satsuma Body Polish  
The Body Shop L’Oreal Strawberry Body Polish  
Watsons Exfoliating Body Wash (all variant)  
Toothpaste
Colgate Colgate-Palmolive Maximum Cavity Protection  
Enzim Enzim Classic Mild  
Pepsodent Unilever Pepsodent Pencegah Gigi Berlubang  
Sensodyne GlaxoSmithKline Sensodyne Multi Action  
Sensodyne GlaxoSmithKline Sensodyne Extra Fresh Repair & Protect  
Sensodyne GlaxoSmithKline Sensodyne Cool Gel  
Thipniyom Thipniyom Co. Herbal toothpaste  
Diverse
Palmolive Colgate-Palmolive Company Foaming Handwash Nourishing Fig & Coconut  
Palmolive Colgate-Palmolive Company Crisp Green Apple Hand Sanitiser  
Skincare
Garnier L’Oreal Men Powerwhite Shaving + Cleansing Brightening Foam  

 

Dampak lingkungan

Belum ada penelitian apa dampak masuknya plastik mikro ke dalam tubuh manusia. Penelitian Joana Correia Prata dari University Fernando Pessoa, Portugal, mengenai partikel plastik mikro masih menduga akan ada dampak kesehatan kalau plastik mikro masuk ke dalam saluran pernafasan. Penelitian sebelumnya di Amerika menemukan serat plastik di dalam paru-paru manusia berukuran 250 mikrometer. Berarti ada kemungkinan manusia berisiko tinggi menghirup plastik mikro. Joana memperkirakan setiap orang yang berada di ruangan dengan konsentrasi tinggi plastik mikro dalam ruangan berisiko menghirup 26-130 plastik mikro per hari.

Lebih banyak penelitian dampak plastik mikro pada lingkungan perairan, mikroba dan satwa seperti dampak pada terumbu karang, berdampak pada embrio bulu babi, pada kerang laut, plastik mikro dari tekstil ditemukan pada seafood, berbagai macam ikan termasuk dalam tubuh ikan makarel (king mackerel). Di darat, plastik mikro ditemukan dalam tubuh cacing tanah (Lumbricus terrestris).

Banyak jalan masuk plastik mikro ke dalam tubuh manusia. Mencermati penelitian-penelitian plastik mikro, kemungkinan besar di dalam tubuh manusia Indonesia sudah ada plastik mikro. Paling tidak, siapa pun yang pernah meminum air dalam kemasan atau mengonsumsi seafood, berisiko kemasukan plastik mikro.

Kekhawatiran para ahli bukan plastik mikro yang berdampak pada kesehatan tapi “penumpang gelap” yang menempel pada partikel plastik mikro itu ikut masuk ke dalam tubuh. Mikro-organisme – termasuk mikro-organisme patogen penyebab penyakit – bisa menempel di plastik mikro.

Masalah limbah plastik – terutama plastik mikro – menjadi persoalan global. Koalisi organisasi nonpemerintah mendesak Uni Eropa melarang kosmetik dan produk perawatan tubuh lainnya yang mengandung plastik mikro (microbead). UNEP dalam UN Environment Assembly 2014 menyetujui resolusi Marine Plastic Debris and Microplastics yang juga didukung Indonesia.

Tahun 2015, UNEPlembaga lingkungan PBB – mendesak agar melarang produk kosmetik dan produk perawatan tubuh mengandung plastik mikro, mengacu pada laporan UNEP mengenai risiko plastik mikro pada lingkungan. Desember 2017, lebih dari 193 negara menandatangani resolusi PBB untuk menghentikan sampah plastik yang terbuang di lautan. Kampanye CleanSeas UNEP telah diikuti oleh 80.620 individu dan perusahaan.

Kemudian, pada tahun yang sama Amerika Serikat menerbitkan peraturan The Microbead-Free Waters Act yang melarang memproduksi, mengemas, dan mendistribusikan kosmetik –termasuk pasta gigi – mengandung plastik microbeads yang tercuci (rinse-off). Selain AS, Kanada dan Selandia Baru juga memberlakukan larangan serupa. Inggris menyusul negara-negara maju memberlakukan larangan yang sama.

Swedia tahun 2017 memutuskan melarang penjualan kosmetik mengandung partikel microbead yang saat digunakan tercuci dan terbuang (rinse-off) dan akan mulai berlaku 1 Juli 2018. Langkah Swedia diikuti oleh negara Eropa lainnya yaitu Finlandia, Perancis, Iceland, Ireland, Luxemburg, Belanda dan Norwegia.

Sampah plastik ukuran besar dan ukuran mikro masih akan terus masuk ke dalam laut, sungai, dan sumber air tawar. UNEP sudah menegaskan plastik biodegradable bukan solusi mengatasi sampah plasti di laut dan di lingkungan terestrial. Indonesia pernah menyatakan berkomitmen mengurangi penggunaan kemasan plastik. Salah satu bukti komitmen adalah mengujicobakan kantong plastik berbayar. Desakan perusahaan ritel dan konsumen berhasil menghentikan program kantong plastik berbayar.

Undang-Undang No 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah Pasal 15 mewajibkan produsen “mengelola kemasan dan/atau barang yang diproduksinya yang tidak dapat atau sulit terurai oleh proses alam.” Di bagian Penjelasan UU No 18/2008 tertulis “Yang dimaksud dengan mengelola kemasan berupa penarikan kembali kemasan untuk didaur ulang dan/atau diguna ulang.” UU sampah ini tidak spesifik mengenai sampah plastik.

Peraturan Pemerintah No 81/2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga – sebagai peraturan pelaksana UU No 18/2008 – menegaskan kembali kalau produsen wajib menarik kembali sampah dari produk dan kemasan produk untuk didaur ulang (Pasal 13 Ayat 1c).

Produsen adalah pelaku usaha yang memproduksi barang yang menggunakan kemasan, mendistribusikan barang yang menggunakan kemasan dan berasal dari impor, atau menjual barang dengan menggunakan wadah yang tidak dapat atau sulit terurai oleh proses alam.

Tidak mudah menyingkirkan produk-produk terbuat dari plastik kasat mata yang sudah merasuk kehidupan sehari-hari meskipun sudah ada UU Sampah. Sampah kemasan plastik kasat mata yang dengan mudah diidentifikasi sampah itu diproduksi siapa – seandainya UU Sampah dilaksanakan dengan tegas – sudah akan sulit ditemukan di tempat sampah atau di mana pun di Indonesia ini.

Sudah waktunya perusahaan yang memproduksi dan menjual produk berkemasan plastik menjalankan tanggung jawabnya menarik kembali sampah-sampah kemasannya. Konsumen dengan penuh kesadaran bisa mengirim kembali sampah kemasan ke produsennya. Sebagai individu, setiap orang sudah harus berpikir saat mengonsumsi “apakah produk ini menghasilkan sampah atau tidak.”

Pemerintah pusat maupun daerah sudah harus melaksanakan UU Sampah dan peraturan pemerintah turunannya. Untuk bisa mengurangi timbulan sampah, kebijakan iuran sampah rumah tangga sama-rata harus diubah. Iuran sampah harus dihitung berdasarkan banyaknya sampah yang dibuang oleh rumah tangga. Sehingga ada insentif bagi rumah tangga untuk mengurangi sampah.

(Versi lain dari informasi ini dipublikasikan di Ekuatorial – dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris)

Advertisements

Written by Harry Surjadi

10 May 2018 at 11:31

Menyelisik Upaya Membersihkan Kota Cilacap

leave a comment »

IMG_5178

TPA Jeruklegi, Kabupaten Cilacap (Credit photo: Harry Surjadi)

Riset Universitas Gajahmada (UGM) tahun 2013 menunjukkan setiap hari warga Kabupaten Cilacap menghasilkan 3.960 meter kubik sampah. Kalau sampah-sampah itu harus diangkut truk colt diesel (volume bak kurang lebih 15 meter kubik), dibutuhkan 264 truk. Sayangnya hanya 11,36% sampah (kurang lebih 450 meter kubik) yang terangkut dan dibuang di empat tempat pembuangan akhir (TPA).

Berbeda jauh dengan data Pemda Cilacap tahun 2014. Sebanyak 30-46% dari total sampah bisa diangkut dan dibuang di TPA.

Ke mana perginya sampah yang tidak terangkut? Masih menurut riset UGM, sampah yang tidak terangkut dibakar oleh penghasil sampah atau dikumpulkan pemulung. Apakah tidak ada sampah-sampah berceceran di tepian jalan di sudut-sudut Cilacap?

Kabupaten Cilacap menerima penghargaan Adipura tahun 2017, artinya Kabupaten Cilacap masuk kategori bersih di sudut-sudut kota dan juga pengelolaan TPA masuk kategori baik. Sayangnya persoalan tidak selesai meskipun Cilacap menerima Adipura.

Berarti Kabupaten Cilacap tidak menghadapi persoalan sampah? Tidak juga. Jika sampah Cilacap tidak ditangani dengan baik, akan ada masalah dalam jangka waktu satu atau dua tahun ke depan. Mengapa?

Peraturan Presiden No 97/2017 menargetkan pengurangan sampah sebanyak 30% pada tahun 2025. Artinya warga harus mengurangi sampah mereka atau produksi sampah harus bekurang hingga 30%. Atau Cilacap harus mengurangi timbulan sampah 1.188 meter kubik di tahun 2025.

Selain target pengurangan timbulan sampah, Perpres No 97 menargetkan 70% sampah yang diproduksi Cilacap harus terangkut untuk dibuang ke TPA pada tahun 2025. Data BPS tahun 2013, Cilacap baru berhasil mengumpulkan sampah 10,42% dari timbulan sampah total.

Bagaimana Cilacap berupaya mencapai target itu?

Perpres No 97/2017 mengharuskan pemerintah daerah membuat Kebijakan dan Strategi Daerah Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga (disingkat Jakstrada) yang akan menjadi arah kebijakan dan strategi pengurangan dan penanganan sampah yang terpadu dan berkelanjutan. Pemda Kabupaten Cilacap belum memiliki Jakstrada.

Untuk meningkatkan penanganan sampah atau meningkatkan jumlah sampah yang bisa diangkut ke TPA – tidak serumit mengurangi timbulan sampah – secara sederhana bisa dicapai dengan memperbanyak jumlah truk sampah dan frekuensi pengangkutan. Tetapi meningkatnya jumlah sampah yang terangkut ke TPA memperpendek umur TPA, selain berbiaya tinggi.

Cilacap menyediakan empat TPA mengadopsi sistem controlled landfill (meskipun praktiknya controlled dump atau buang-timbun) yaitu TPA Sidareja, TPA Kroya, TPA Majenang, dan yang paling luas TPA Tritih Lor atau dikenal sebagai TPA Jeruklegi. TPA Jeruklegi dengan luas 6,3 ha setiap hari menampung 722,55 meter kubik dari Kota Cilacap dan sekitarnya (data tahun 2014).

Dari luasan lahan 6,3 ha yang mulai dimanfaatkan tahun 1995 itu sudah terpakai penuh 4,9 ha. Sisanya 1,4 ha, berdasarkan perkiraan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Cilacap akan penuh tahun 2016 dan jika dimaksimalkan masih bisa menampung sampah hingga 2018. Data riset UGM menunjukkan rata-rata per hari ada 19 truk yang membawa 72,420 ton sampah.

Pemda Cilacap harus memperluas TPA Jeruklegi atau lahan TPA baru seluas 5 ha (dibutuhkan biaya Rp 40 miliar) atau mencari cara lain agar TPA Jeruklegi umur pemanfaatannya bisa lebih lama.

“Yang penting sampah tidak penuh di TPA,” kata Kun Nasython, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cilacap yang juga Kepala UPT Fasilitas Produksi RDF, menyampaikan tujuan pengelolaan sampah di Cilacap. Agar TPA Jeruklegi tidak penuh, sampahnya harus “dimusnahkan.”

Kun Nasython, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cilacap yang juga Kepala UPT Fasilitas Produksi RDF

Kun Nasython, Kepala UPT Fasilitas Produksi RDF, TPA Jeruklegi, Cilacap (Credit photo: Harry Surjadi)

Kabupaten Cilacap beruntung Kementerian Luar Negeri Pemerintah Denmark melalui Environmental Support Program (ESP3) Danida (Danish International Development Agency) menawarkan dana hibah untuk membangun fasilitas dan transfer teknologi refuse-derived fuel (RDF) – memproses sampah rumah tangga menjadi bahan bakar. Proyek percontohan ini diharapkan paling tidak bisa memperpanjang umur TPA Jeruklegi hingga 2025.

Jika pertumbuhan penduduk 1% per tahun dan produksi timbulan sampah 2,225 meter kubik per hari per penduduk, volume sampah Cilacap pada tahun 2020 akan mencapai 1,51 juta meter kubik per tahun. Kalau saja 20% sampah itu bisa dikumpulkan oleh Dinas, maka jumlah sampah yang dibuang ke 4 TPA 300 ribu meter kubik pada 2020.

Refuse-Derived Fuel

Refuse-derived fuel disingkat RDF adalah bahan bakar padat yang berasal dari limbah yang mudah terbakar seperti sampah organik, limbah kertas, limbah plastik, dan bahan organik lainnya. Limbah atau sampah diproses agar mencapai nilai kalor (panas) yang tinggi sebagai bahan bakar. RDF ini umumnya digunakan sebagai bahan bakar subsitusi di tungku pabrik semen atau pembangkit listrik, demikian penjelasan dalam Pedoman Umum Pemanfaatan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga Sebagai Bahan Bakar Alternatif RDF yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Tujuan pemanfaatan RDF adalah untuk mengurangi sampah yang harus dibuang ke TPA, mengurangi gas rumah kaca yang timbul dari sampah, memanfaatkan sampah menjadi bahan bakar alternatif di industri semen dan pembangkit listrik.

Ide Proyek Percontohan RDF di TPA Jeruklegi dibicarakan 2015, konstruksi baru dimulai Juli 2017 dan ditargetkan sudah bisa menghasilkan RDF tahun 2018. Selain Pemerintah Denmark dan Pemda Kabupaten Cilacap, Proyek RDF melibatkan perusahaan semen swasta Holcim Indonesia.

Total biaya investasi diperkirakan mencapai Rp 60 miliar (atau 5 juta dollar AS). Program ESP3 Danida mendukung 50% biaya Proyek Percontohan RDF ini dengan dana hibah sebesar 2,5 juta dollar AS. Holcim menyediakan lahan 1,3 ha untuk fasilitas produksi RDF dan Pemda Cilacap akan mengelola fasilitas itu.

Pemda Cilacap mentargetkan mampu mengumpulkan sampah hingga 80% – 10% lebih banyak dibandingkan target nasional yang 70% – yang kemudian sebagian besar sampah itu diproses di fasilitas RDF ini.

Alur proses menghasilkan RDF ini secara sederhana adalah: sampah yang tiba di TPA Jeruklegi akan di tumpuk di lokasi pemilahan. Pemulung diberikan kesempatan mengambil sampah yang masih bernilai untuk dijual. Waktu pemungutan akan dibatasi dan pemulung akan dibagi ke dalam beberapa kelompok.

Umumnya pemulung akan mengambil beberapa jenis plastik (botol plastik, gelas plastik, kantong kresek plastik), logam (besi dan alumunium), botol beling. Sisa sampah yang tidak diambil pemulung akan dipindahkan untuk diseleksi kembali materi sampah yang tidak mempunyai nilai kalor, termasuk logam, batu kerikil, dan beling yang tidak diambil pemulung. Kurang lebih 10% sampah yang tidak bisa diproses menjadi RDF ini. Sampah yang bisa dijadikan RDF ini kemudian dicacah menjadi ukuran yang lebih kecil, paling tidak 5 cm.

Selanjutnya sampah partikel 5 cm ini dipindahkan di tempat pengeringan dengan sistem biologis (bio-drying). Ada sembilan tempat pengeringan yang berurutan, dengan perkiraan di tahapan ke-9 sampah organik ini sudah cukup kering sebagai bahan bakar subsitusi batu bara. Bahan bakar sampah RDF ini akan diambil oleh Holcim dan dibakar di tungku dengan suhu pembakaran 2.000 derajat Celsius.

Pemulung

Di berbagai kota dan daerah di Indonesia – dan juga di berbagai negara berkembang di dunia – pemulung selalu menjadi bagian rantai alur sampah mulai dari produsen sampah (rumah tangga dan non-rumah tangga) sampai di tempat pembuangan akhir ada pemulung.

Pemulung yang mencari sampah bernilai ekonomi di TPA Jeruklegi, menurut riset UGM, ada lebih dari 100 individu pemulung. Tumiran (28 tahun) – pemulung di Jeruklegi – menghitung ada 130 pemulung. “Sekarang (bulan Maret – Red) tidak banyak yang kerja karena lagi musim panen,” kata Tumiran.

Tumiran - pemulung di TPA Jeruklegi, Cilacap

Tumiran – pemulung di TPA Jeruklegi, Cilacap (Credit photo: Harry Surjadi)

Bulan Maret memang bulan panen di Cilacap. Sebagian besar pemulung balik ke kampung masing-masing menjadi buruh tani, membantu para pemilik sawah memanen padi. Kata Tumiran bayaran membantu panenan lebih besar daripada hasil dari memulung.

Para pemulung bekerja “bebas” di TPA Jeruklegi. Mereka menunggu truk sampah datang hampir setiap satu jam sekali. Mereka akan mengerubung di belakang truk dan mulai mengais-ngais sampah yang ditumpahkan truk. Ada risiko mereka terluka karena tertimpa sampah, terluka karena menginjak benda tajam, atau terkena badan truk.

Tumiran akan mengambil gelas plastik, kantong kresek, botol (kemasan air), botol shampo, kertas, logam (aluminium, besi), botol beling. “Gelas plastik paling mahal. Plastik yang lunak biasanya mahal. Plastik yang keras, sudah tidak laku,” kata Tumiran menjelaskan.

Jumlah sampah yang paling banyak – dihitung berdasarkan beratnya – adalah kantong plastik kresek. Di TPA Jeruklegi per hari bisa dikumpulkan 50-60 kg plastik kresek; 30-40 kg kertas; 5 kg botol plastik (kemasan air); 20 kg botol shampoo hingga; botol beling ukuran besar sehari 10 botol dan yang ukuran kecil 20 kg. Jenis sampah lainnya – seperti kain bekas, materi plastik yang sifatnya keras tidak bisa dibengkokkan – kata Tumiran tidak laku.

Paling tidak satu individu pemulung sebulan bisa mendapatkan uang hingga Rp 3 juta. “Paling sedikit dapat satu juta. Kalau kerja sehari bisa dapat lebih dari 100 ribu,” Tumiran mengaku.

Sampah bernilai itu setelah dipisah, dimasukkan ke dalam karung plastik sesuai dengan jenisnya, ditimbang beratnya, dicatat hasil timbangan, sebelum akhirnya diambil oleh pengepul. Ada empat pengepul – individu yang membeli sampah-sampah masih bernilai itu dari pemulung – di TPA Jeruklegi.

Kun memastikan pemulung tidak akan berkurang penghasilannya. “Tidak akan mereduksi penghasilan. Pemulung diberikan kesempatan mengambil dulu sampah yang mereka inginkan, sisanya baru untuk RDF,” kata Kun.

Tantangan Keberhasilan RDF

Fasilitas produksi RDF dari sampah perkotaan ini sesuatu yang baru di Indonesia. Di negara maju, RDF bukan teknologi baru. Keberhasilan proyek percontohan pengembangan fasilitas produksi RDF di Cilacap akan mempengaruhi adopsi model ini di kota atau kabupaten lainnya di Indonesia.

Mencermati studi kelayakan teknis dan finansial proyek percontohan fasilitas produksi RDF ada beberapa aspek krusial menjadi kunci keberhasilan proyek di Cilacap ini berdasarkan asumsi yang ada.

Kementerian Perindustrian mensyaratkan spesifikasi RDF untuk pabrik semen Indonesia antara lain: nilai kalor 3.000-4.000 kkal/kg netto; kelembaban kurang dari 20%; kandungan klorin kurang dari 1%; kandungan sulfur kurang dari 1%; ukuran 20-50 mm; dan bentuk produk fluffs (bentuk setelah dikeringkan).

Jika sudah jadi, kapasitas produksi fasilitas pembuatan RDF ini bisa mengolah 120 ton sampah (atau kurang lebih 800 meter kubik) yang masuk ke TPA Jeruklegi per hari. Paling tidak – berdasarkan studi – umumnya akan ada 10% sampah yang tidak bisa diproses menjadi RDF, seperti partikel logam dan benda-benda besar seperti kasur. Berarti, Pemda Cilacap masih tetap membutuhkan lahan untuk menampung sampah yang tidak bisa diproses. Pemda Cilacap tetap membutuhkan lahan TPA.

Proyek pecontohan RDF Cilacap memilih sistem pengeringan biodrying – sistem pengeringan dengan biologis – memanfaatkan bakteri pembusuk yang bisa menaikkan suhu hingga 70 derajat Celsius. Ada sembilan tempat pengeringan dengan aerator yang berurutan. Belum ada penelitian apakah setelah berpindah sembilan kali, di tempat ke-9 RDF itu mampu menurunkan kadar air sampah yang 60% menjadi kurang dari 20%?

Fasilitas produksi RDF Jeruklegi Cilacap2

Fasilitas produksi refuse-redived fuel (RDF) di TPA Jeruklegi, Cilacap (Credit photo: Harry Surjadi)

Dari aspek sosial masih ada tantangan besar bagaimana mengikutsertakan kurang lebih 130 pemulung yang sudah lama menggantungkan hidup di TPA Jeruklegi. Ada ketidaktahuan yang memunculkan ketakutan, kekhawatiran, keengganan, dan penolakan pada proyek RDF ini. Tumiran mengatakan hanya pernah sekali dikumpulkan untuk mendengarkan penjelasan mengenai proyek percontohan RDF ini dan sekali saat peneliti UGM datang.

Pemulung di Jeruklegi tidak ada organisasinya, meskipun mereka secara tidak resmi mengakui ada satu pemulung yang selalu menjadi perantara dengan pemda. Kekhawatiran terbesar adalah mereka tidak boleh lagi memulung di sana. Atau kalaupun boleh memulung penghasilan mereka turun drastis. Selain itu ada keengganan membentuk organisasi resmi, seperti koperasi. “Pemulung inginnya bebas,” kata Tumiran.

Bebas yang dimaksud Tumiran adalah pemulung bebas kapan mau memulung, kapan mau istirahat, dan tidak ada yang menentukan waktu kerja mereka. Mereka adalah pekerja yang bebas merdeka. Seperti misalnya, saat bulan-bulan panen – Maret-April – hampir separuh pemulung pulang ke kampung masing-masing. Tumiran dan pemulung lainnya khawatir kalau mereka dilibatkan di proyek percontohan ini, mereka jadi tidak bebas lagi. Pemulung hanya ingin bisa tetap bebas mengambil sampah bernilai ekonomi di TPA Jeruklegi.

Perlu ada intervensi sosial jika proyek percontohan ini ingin melibatkan pemulung dalam proses pemilahan. Menyelisik rencana proyek dan mencermati apa saja yang sudah dikerjakan terkait dengan pemulung, bagian sosial ini akan sangat krusial jika tidak segera ditangani.

Salah satu upaya yang akan sangat membantu pemulung adalah menyediakan tempat untuk mereka menaruh sampah yang sudah mereka pulung. Saat ditanya apa yang paling pemulung butuhkan, Tumiran mengatakan, tempat menaruh hasil mereka memulung dan air untuk bersih-bersih.

Tantangan ketiga adalah hitung-hitungan untung-rugi, termasuk biaya yang harus dikeluarkan Pemda Cilacap. Secara ekonomi dan lainnya, proyek percontohan RDF ini akan membawak manfaat pada Pemda Kabupaten Cilacap. Kalau tidak ada fasilitas pembuatan RDF ini, Pemda Cilacap masih harus mengeluarkan dana Rp 30 miliar untuk membangun TPA baru seluas 5 ha, plus persoalan sosial yang mengikutinya.

Dengan adanya proyek RDF ini, Pemda Cilacap harus mengeluarkan biaya operasional untuk menangani 10% sampah yang tidak bisa dijadikan RDF Rp 55.000 – Rp 71.420 per ton dan biaya operasional fasilitas produksi RDF 11,32 – 12,30 dollar AS per ton. Holcim harus mengeluarkan biaya operasional untuk tungku Rp 66.980 per ton.

Pertanyaan penting pada Holcim adalah mengapa bersedia terlibat dalam proyek percontohan ini? Terlibat berarti Holcim harus mengeluarkan biaya investasi besar memodifikasi tempat pembakaran agar bisa menggunakan RDF sebagai bahan bakar, biaya operasional tambahan transportasi RDF. Walaupun hasil analisis menyimpulkan proyek percontohan RDF ini layak dilanjutkan, masih ada pekerjaan rumah perhitungan untung-rugi dari pihak Holcim.

Aspek teknis karakteristik RDF – seperti nilai kalor RDF, jumlah RDF yang akan dihasilkan – akan sangat mempengaruhi perhitungan ekonomis bagi Holcim. Fasilitas produksi RDF akan dikelola oleh Pemda Cilacap dan Holcim akan membeli RDF yang dihasilkan. Harga RDF akan tergantung dari harga pasaran batu bara. Belum ada kesepakatan bagaimana menghitung harga RDF.

Model Kerja Sama Pemerintah-Swasta

Studi Kementerian Perindustrian membuka peluang kerja sama pemerintah dengan swasta dalam pengelolaan sampah. Peluang itu tertuang dalam Perpres No 56/2011 dan Perpres No 13/2010 (perubahan Perpres No 67/2005 tentang Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Menyediakan Infrastruktur) dengan semua persyaratannya. Model kerja sama ini sering disebut public private partnership (PPP).

Proyek percontohan pembangunan fasilitas produksi RDF di Cilacap ini agak berbeda dengan model PPP yang ada sebelumnya. Pertama proyek percontohan ini selain melibatkan perusahaan swasta, juga melibatkan pemerintah negara lain yaitu Denmark melalui Program ESP3 Danida. Kedua, inisiatif datang dari Pemerintah Denmark. Ketiga, biaya investasi awal proyek percontohan ini sangat besar. Keempat, proyek percontohan mengelola sampah menjadi energi dengan teknologi RDF adalah yang pertama di Indonesia.

Pertanyaannya, apakah model PPP untuk pengelolaan sampah seperti ini masih layak direplikasi di wilayah Indonesia lainnya? Tantangan terbesar untuk mereplikasi model kerja sama seperti ini ada pada biaya yang juga besar dan belum ada hitungan apakah keuntungannya bagi pihak swasta sebanding dengan biayanya. Persyaratan teknis – seperti jumlah sampah yang dihasilkan, adanya perusahaan semen atau pembangkit listrik berbahan bakar batu bara – akan mudah dipenuhi. Persyaratan biaya investasi yang besar akan menyulitkan pemerintah daerah yang berminat.

Proyek percontohan RDF di Cilacap membutuhkan biaya investasi awal Rp 60 miliar. Pemda Cilacap tidak akan sanggung menanggung biaya awal separuhnya dan pihak swasta belum tentu bersedia menginvestasikan Rp 30 miliar di awal. Pemda Cilacap beruntung karena ada bantuan dana hibah dari Denmark sebesar 2,5 juta dollar AS.

Memang pemerintah daerah akan membutuhkan dana yang lebih besar lagi jika tidak ada model pengelolaan sampah menjadi energi. Biaya besar itu untuk menyediakan lahan pembuangan akhir, tetapi biaya itu bisa dipenuhi secara bertahap. Pemerintah pusat berpotensi menjadi investor yang meringankan beban pemerintah daerah.

Atau belajar dari negara maju seperti Jerman dan mengacu pada UU No 18/2008 tentang sampah, perusahaan-perusahaan yang menghasilkan sampah kemasan – seperti Indofood dan Unilever – berpotensi menginvestasikan dana di proyek seperti RDF ini. Berdasarkan UU No 18/2008, perusahaan yang ketika produknya dikonsumsi menghasilkan sampah, perusahaan itu wajib menangani sampahnya.

Proyek percontohan pembangunan fasilitas produksi RDF ini masih harus diuji kelayakannya dan baru akan terbukti setelah berjalan beberapa tahun ke depan.

Mengurangi sampah

Seandainya model penanganan sampah dengan teknologi RDF dan skema PPP di Cilacap ini berhasil, apakah persoalan sampah di daerah-daerah akan selesai?

Model penanganan sampah menjadi energi atau waste to energy (WTE) seperti di Cilacap hanyalah mengatasi keterbatasan lahan pembuangan sampah. Model WTE bukan jawaban target sampah nol – zero waste. Model WTE di Cilacap lebih baik dibandingkan model WTE dengan insinerator yang membutuhkan persyaratan lingkungan sangat ketat terutama pesyaratan gas buang.

Pemerintah mentargetkan pengurangan timbulan sampah atau produksi sampah hingga 30% hingga tahun 2025. Upaya pengurangan sampah hanya bisa melalui intervensi sosial jangka panjang di tingkat konsumen. Intervensi sosial dibutuhkan untuk mengubah perilaku konsumen yang cenderung tidak peduli dengan sampah yang dihasilkan ke perilaku berusaha mengonsumsi produk yang tidak menghasilkan sampah atau menghasilkan sampah sangat sedikit.

Pemerintah pusat – di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan – dan pemerintah daerah menjalankan program kampanye 3R dengan lebih strategis. Tahun 2016 KLHK menguji coba program kantong plastik berbayar di berbagai supermarket dan pasar. Setelah program uji coba selesai, selesai juga program itu.

Program bank sampah juga tidak membantu upaya pengurangan sampah. Malah bisa berbalik program bank sampah memotivasi warga meningkatkan konsumsi produk dengan sampah yang bisa didaur ulang agar bank sampah bisa terus berjalan. Sesungguhnya ukuran keberhasilan bank sampah adalah ketika sudah tidak ada lagi sampah yang disetor ke bank sampah.

Satu kebijakan yang akan bisa membantu jika diubah adalah ketentuan retribusi sampah yang harus dibayar oleh warga. Saat ini retribusi sampah sama besarnya untuk mereka yang menghasilkan sampah sedikit atau banyak. Harusnya yang adil, mereka yang menghasilkan sampah banyak harus membayar retribusi sampah lebih banyak lagi. Mereka yang tidak menghasilkan sampah (karena mengurangi sampah dengan mengompos sampah organik dan menggunakan kembali sampah kemasan) tidak harus membayar retribusi sampah.

Perusahaan-perusahaan yang produknya menyisakan sampah – yang selama ini harus ditangani dan dibiayai oleh warga dan pemda – harus sudah mulai menjalankan kewajibannya menurut UU No 18/2008 mengambil kembali sampah dan memprosesnya. Sudah tentu pemerintah harus tegas menegakkan peraturan.

(Tulisan ini dimuat di Greeners.co tanggal 23 Maret 2018)

Written by Harry Surjadi

6 April 2018 at 15:19

TPA Adalah Hidup Kami

leave a comment »

TPA Jeruklegi lokasi aktif pembuangan

TPA Jeruklegi, Kabupaten Cilacap (Credit photo: Harry Surjadi)

Hari Senin, 12 Maret 2018, sekitar pukul 12 siang, Ijat mengangkat karung plastik berisi botol-botol beling mendekat ke kaitan timbangan logam atau dacin logam yang digantung pada kusen bangunan untuk pengomposan sampah. Ijat menggeser logam pengukur yang karatan itu, ia melihat angka yang menunjukkan berat botol-botol beling itu dan menulis berat itu di buku tulis.

Satu-per-satu karung-karung berisi barang-barang rongsok logam besi dan aluminium, plastik kemasan atau plastik kresek, botol plastik dan gelas plastik bekas kemasan air minum ditimbang Ijat dan dicatat hasil timbangannya. Itulah salah satu pekerjaan Ijat di Tempat Pembuangan Akhir Jeruklegi, Cilacap.

Lapak pemulung 1

Lokasi penumpukan hasil memulung di TPA Jeruklegi, Cilacap

Masih puluhan karung plastik berisi rongsok terserak di lahan terbuka seluas kurang lebih 20 m x 20 m di belakang bangunan semi permanan untuk pengomposan dan di sebelah garasi back-hoe. Masih ada lagi tumpukan di belakang garasi. Semua itu hasil kerja para pemulung di TPA Jeruklegi.

Di TPA Jeruklegi ada 130 pemulung, kata Tumiran, salah satu pemulung. Tumiran bekerja memulung bersama isterinya. Hasil kerja pemulung itu kemudian disetor ke pengepul. Ada empat pengepul di TPA Jeruklegi, salah satunya adalah orangtua Tumiran. Ijat bekerja membantu orangtua Tumiran.

Tumiran - pemulung di TPA Jeruklegi, Cilacap

Tumiran – pemulung di TPA Jeruklegi, Cilacap (Credit photo: Harry Surjadi)

Tumiran sudah menjadi pemulung saat masih sekolah kelas 4 SD. Setiap hari para pemulung bekerja mulai pukul 05.00 atau 06.00 hingga pukul 15.00 atau 16.00. Bulan Maret saat-saat panen, banyak pemulung pulang kampung untuk membantu memanen di sawah, saat itu tidak banyak yang bekerja di TPA Jeruklegi.

Pemulung itu orang bebas, kata Tumiran. “Kalau ingin kerja ya bekerja, kalau ingin istirahat ya istirahat. Tidak mau diatur-atur waktu kerjanya,” Tumiran mengakui. Kalau rajin bisa menghasilkan cukup untuk hidup berkeluarga.

“Rata-rata sehari bisa dapat seratus ribu,” kata Tumiran. Sebulan seorang pemulung bisa membawa uang Rp 3 juta. “Paling rendah bisa bawa pulang satu juta,” ungkap Tumiran.

Sehari Tumiran bisa mengumpulkan 5 kg botol plastik kemasan; 50-60 kg kantong kresek, 20 kg botol shampo, 30-40 kg kertas, 5 kg alumunium, 20 kg besi, 10 botol beling besar dan 20 kg botol beling kecil.

Plastik-plastik kemasan yang warnanya putih biasanya dikirim oleh pengepul ke Rembang dan plastik yang berwarna ke Rembang. Rongsok lainnya dikirim ke berbagai tempat lainnya.

“Gelas Aqua paling mahal. 4 ribu per kilogram. Kalau gelas minuman berwarna hanya 2.200,” kata Satena, pengepul di luar kawasan TPA Jeruklegi yang bertugas menjaga lapak Tukam, suaminya. Satena membayar Rp 3.000 untuk sekilogram botol minum plastik yang transparan. Kaleng alumunium dibeli Satena antara Rp 10.000 – Rp 12.000 per kilogram.

Pengepul Satena-Tukam

Lapak Satena, Kota Cilacap (Credit photo: Harry Surjadi)

Biasanya ada kurang lebih 50 pemulung yang membawa rongsok ke lapaknya Satena. “Yang rutin 20 pemulung. Pas mau lebaran bisa 100 pemulung nyetor ke sini,” kata Satena.

Proyek percontohan pembangunan fasilitas produksi bahan bakar dari sampah atau refuse-derived fuel (RDF) di TPA Jeruklegi, Kecamatan Jeruklegi, Kabupaten Cilacap yang harus selesai akhir 2018 ini akan mengajak pemulung di dalam proses. Pemulung akan diberikan kesempatan untuk mengambil rongsok seperti biasa, demikian janji Kun Nasython, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cilacap yang juga Kepala UPT Proyek RDF ini, kepada peserta diskusi di Hotel Fave, Cilacap, Kamis, 22 Maret 2018.

Sayangnya pemulung belum pernah diajak diskusi mengenai proyek ini. “Pernah dikumpulkan sekali,” kata Tumiran, “tapi saya tidak ikut.” Sekali lagi saat bertemu dengan tim peneliti dari Universitas Gajah Mada. Sampai awal 2018 tidak ada upaya dari Pemda Cilacap – yang akan mengelola fasilitas produksi RDF ini – mengajak pemulung atau bertanya apa keinginan pemulung.

Padahal studi awal mengenai pemulung di Jeruklegi oleh konsultan Danida, agar rencana proyek ini menjadi lebih matang, merekomendasikan pelaksana proyek “…mengundang pemulung untuk berpartisipasi dalam perumusan proyek, dan menjadi lebih komprehensif, dengan memperluas perlakuan terhadap pendauran ulang sampah melalui keikutsertaan pendaur ulang formal, semi-formal, dan formal lainnya…

Survei UGM pada 107 pemulung di TPA Jeruklegi, sebanyak 91% memulung adalah pekerjaan utama dan 88,8% bekerja penuh sebagai pemulung. Sebagian besar pemulung – 93 orang – memiliki lebih dari dua anggota keluarga yang juga memulung dan memulung adalah penghasilan utama mereka.

“Memulung adalah hidup kami,” komentar pemulung yang dicatat di hasil survei UGM. Pernyataan lebih kuat, “TPA adalah hidup kami,” menggambarkan para pemulung sangat tergantung pada TPA Jeruklegi untuk menopang hidup mereka.

Kegiatan pemulung di TPA Jeruklegi termasuk ilegal karena Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Cilacap dan TPA Jeruklegi tidak memiliki prosedur yang jelas dalam mengelola TPA, tidak ada petunjuk operasional, tidak ada pejabat publik yang jelas sebagai penghubung antara pemerintah dan pemulung. Memang – seperti diungkapkan Tumiran – ada satu pemulung Pak Turmin yang biasa mewakili mereka ketika harus bertemu dengan Pemda Cilacap.

Tetapi ketika diwawancara oleh Tim UGM, Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang menyangkal punya otoritas atas pemulung dan menyatakan pendaur ulang informal bukan urusan mereka. Memang Dinas mencatat jumlah pemulung yang beraktivitas di Jeruklegi meskipun tidak diperhararui dan tidak akurat.

Dinas Sosial Kabupaten Cilacap mengatakan pemulung belum menajdi salah satu target program. Program Dinsos baru menjangkau pengemis, gelandangan, orang tidak dikenal, dan orang miskin.

Selama ini sejauh tidak terjadi konflik, pemulung dibiarkan beraktivitas mengambil rongsok yang masih ada nilai ekonomi. Karena ilegal, tidak tersedia tempat bagi pemulung menaruh hasil pulungan mereka. Rongsok digeletakkan di lahan kosong, di bawah pohon di dalam areal TPA Jeruklegi. Sewaktu-waktu para pemulung bisa saja dilarang bekerja dan keluar dari kawasan TPA Jeruklegi.

Apa keinginan pemulung, terutama 130 pemulung yang beraktivitas di TPA Jeruklegi?

Pemulung butuh tempat penampungan sementara rongsok hasil mereka di kawasan TPA Jeruklegi, ungkap Tumiran. Survei UGM juga menunjukkan pemulung membutuhkan tempat menyimpan hasil pungutan yang aman. Yang ada saat ini adalah tempat terbuka, jika hujan kebasahan dan sewaktu-waktu bisa digusur.

Rongsok belum disortir kembali

Hasil memulung belum diseleksi (Credit photo: Harry Surjadi)

Sarana air untuk cuci tangan menjadi kebutuhan para pemulung. Saat ini tidak ada sarana air dan toilet. Selain dua kebutuhan utama, pemulung berharap ada sarana alat kerja yang lebih baik. Ketika ditanya Tumiran meminta ada penyemprotan lalat yang rutin.

Pemulung mengharapkan hubungan yang egaliter antara pemulung dan petugas TPA atau pengelola TPA. “Pemulung adalah pekerja bebas,” kata Tumiran. Makna “pekerja bebas” bagi pemulung adalah “tidak ingin diatur,” termasuk membantuk organisasi formal, seperti koperasi atau asosiasi pemulung.

Kun Nasython menjanjikan pemulung yang beraktivitas di Jeruklegi akan didata. Hanya mereka yang terdata dan sudah lama beraktivitas di Jeruklegi yang akan diberikan kesempatan terlibat di kegiaan produksi RDF. “Tidak boleh ada tambahan lagi pemulung dari luar,” kata Kun.

Nanti, kata Kun menjelaskan lebih rinci, pemulung akan dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok akan mendapatkan kesempatan memulung selama 15 menit di tempat penumpahan sampah dari dump-truck. Setelah 15 menit, bergantian kelompok kedua dan seterusnya.

Menurut Kun nanti pemulung akan diuntungkan karena tempat mereka kerja terlindung dari hujan dan terik matahari, karena ada atapnya. Risiko terluka akan sangat minim. Mereka juga akan mendapatkan akses untuk sarana cuci tangan dan kesehatan. “Kesempatan mereka tidak akan berkurang,” ujar Kun.

Kun Nasython, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cilacap yang juga Kepala UPT Fasilitas Produksi RDF

Kun Nasython, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cilacap  (Credit photo: Harry Surjadi)

Sayangnya niat baik itu belum pernah disampaikan langsung kepada para pemulung. Masih ada waktu setengah tahun sebelum proyek percontohan produksi RDF ini berjalan untuk secepatnya merangkul para pemulung.

Pemda Cilacap perlu membentuk tim untuk rekayasa sosial agar pemulung tidak merasa diasingkan, tersingkir, dan akibatnya mereka tidak mendukung proyek percontohan ini. Satu yang pasti, Tumiran dan teman-temannya, tidak ingin menjadi “pegawai” di fasilitas produksi RDF ini.

Written by Harry Surjadi

6 April 2018 at 14:30

Hentikan Pengambilan Air Tanah Sebelum Jakarta Tenggelam

leave a comment »

Ada tiga hal penting yang disampaikan Christiana Figueres, Sekretaris Eksekutif Konvensi Perubahan Iklim PBB (UNFCCC) dalam acara pembukaan konferensi Adaptation Futures 2016 awal Mei di Rotterdam, Belanda. Pertama, adaptasi perubahan iklim haruslah berpusat pada manusia. Kedua, adaptasi perubahan iklim bukanlah didorong oleh teknologi. Ketiga, adaptasi perubahan iklim adalah mengenai kualitas hidup.

Adaptation is people center. It has to be people center. It cannot be technology driven,” kata Christiana Figureres. “Adaptation is about quality of life.”

Pemerintah DKI Jakarta sudah lama selalu berurusan dengan air: air banjir, kekurangan air, air tanah, intrusi air laut, banjir rob, dan upaya menyediakan air bersih untuk warga Jakarta.

Presiden RI Joko Widodo dalam rapat terbatas membahas reklamasi Teluk Jakarta tanggal 27 Mei 2016 mengatakan Jakarta butuh pertahanan yang berkelanjutan dalam penyediaan air bersih, air minum, pengolahan air limbah, dan revitalisasi sungai. NCICD (National Capital Integrated Coastal Development) adalah jawaban untuk Jakarta.

Sebelum ada NCICD tahun 2009-2012 di era Presiden SBY ada JCDS – Jakarta Coastal Defence Strategy untuk mengatasi banjir Jakarta. JSDS – membangun tembok penghalang air laut masuk ke daratan – di bawah payung kerja sama Pemerintah Indonesia dan Belanda dalam berbagi pengalaman, keahlian, dan pengetahuan. Proyek ini tanggung jawab Kementerian Pekerjaan Umum.

Tahun 2013 – setelah JCDS selesai – disepakatilah proyek NCICD yang melibatkan swasta dari Belanda maupun Indonesia. Wilayah cakupan NCICD lebih luas hingga Bekasi dan Tangerang.

Tujuan proyek raksasa dari semua aspek adalah melindungi Jakarta dari banjir yang permanen dengan membangun tembok raksasa (giant sea wall) sepanjang 35 km di utara pesisir Jakarta. NCICD ini proyek seharusnya menjadi jawaban bagaimana Jakarta beradaptasi dari perubahan iklim.

Tiga aspek penting adaptasi yang disampaikan oleh Christiana – berpusat pada manusia, bukan didorong teknologi, dan mengenai kualitas hidup – tidak tergambar dari uraian proyek NCICD atau yang sudah berlangsung.

NCICD sangat gamblang mengutamakan teknologi. Tembok raksasa adalah solusi teknologi menghambat naiknya permukaan air laut agar tidak menggenangi daratan Jakarta. Pompa air untuk memindahkan limpasan air dari Sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane juga teknologi. Reklamasi laut membuat pulau-pulau jelas sekali teknologi. NCICD didorong oleh teknologi – technology driven.

Apakah proyek NCICD berpusat pada manusia? Tidak. Proyek NCICD lebih menonjolkan ekonomi – bagaimana pulau-pulau buatan bisa membiayai proyek NCICD dan berapa yang akan didapat oleh Pemda DKI dari pulau-pulau buaan itu. Memang ada analisis mengenai komunitas terapung (floating community). Manusia – terutama nelayan dan kelompok miskin ibukota – bukan agregat proyek NCICD. Ketika manusia bukan menjadi pusat, kesejahteraan menjadi tidak penting. NCICD bukanlah model adaptasi perubahan iklim yang digambarkan oleh Christiana.

Air Tanah

Nara sumber lain, Henk Ovink, Special Envoy for Water Affair, Pemerintah Belanda, mengatakan 80 persen upaya adaptasi perubahan iklim adalah mengenai air.

Untuk Jakarta, beradaptasi adalah mengenai banjir, banjir rob, ketersediaan air bersih dan air minum, intrusi air laut, naiknya permukaan air laut, dan 13 aliran anak Sungai Ciliwung.

Koos Wierik, Staf Ahli Menteri Sumber Daya Air Belanda yang pernah menjadi konsultan di Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta, dalam wawancara di sela-sela Konferensi Adaptation Futures 2016, di Rotterdam, mengatakan seharusnya – dalam konteks proyek NCICD – upaya pertama adalah menghentikan pengambilan air tanah. Jika tidak distop, Jakarta tidak akan bisa beradaptasi pada perubahan iklim.

Turunnya permukaan tanah adalah persoalan utama banjir di Jakarta yang juga mendorong JCDS. Tahun 1974 di sepanjang pesisir utara Jakarta permukaan tanah sudah turun antara 2-2,5 meter. Pantauan ITB antara tahun 2000-2011 penurunan permukaan sekitar 1 m di bagian utara Jakarta (bahkan di kawasan Pluit hingga 1,4 m) sedangkan di bagian selatan hanya beberapa puluh centimeter saja.

Atau rata-rata penurunan tanah per tahun Jakarta bagian barat 6-8 cm dan di timur 2-3 cm. Di kawasan Pluit lebih dari 12 cm per tahun. Sejauh 10 km ke selatan Jakarta penurunan tanah bervariasi tergantung wilayahnya.

Salah satu penyebab turunnya permukaan tanah adalah pengambilan air tanah – terutama air tanah dalam – yang melebihi kapasitas pengisiannya. Tekanan air tanah (piezometric) untuk sumur dangkal (kedalaman 40-140 m) di utara bagian timur perubahannya kecil. Di bagian tengah dan selatan penuruan tekanan air tanah menuruan rata-rata 0,5-1,5 m per tahun. Untuk sumur dalam (kedalaman 140-220 m), penurunan piezometric lebih merata antara 0-1 me per tahun. Semakin ke selatan semakin besar perubahannya.

Penelitian Amrta Institute for Water Literacy menunjukkan ada keanehan data terkait dengan pengambilan air tanah, penyediaan air PAM dan pemasukan pajak air tanah ke Pemda DKI. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta mencatat kebutuhan air bersih untuk industri 195 juta m3/tahun. Kurang lebih 87,07 juta m3/tahun bisa dipenuhi oleh PAM. Kemungkinan besar – karena tidak ada lagi sumber air bersih di Jakarta – sisanya kurang lebih 108 juta m3/tahun dipenuhi dari air tanah.

Data Dinas Tata Air DKI Jakarta tahun 2015 menunjukkan penggunaan air tanah tahun 2014 mencapai 8,8 juta m3 meningkat dibandingkan tahun 2013 sekitar 7,2 juta m3.

Kebutuhan air tanah – dari perhitungan BPLHD DKI Jakarta – sebesar rata-rata 108 juta m3 ada perbedaan jauh menyolok 99,2 juta m3 yang tidak jelas dari mana suplai airnya. Kemungkinan 99,2 juta m3 itu berasal dari air tanah yang diambil ilegal atau tidak dilaporkan.

BPLHD melaporkan lagi data yang berbeda yaitu ada penurunan penggunaan air tanah setiap tahun – 18 juta m3 tahun 2009, 10 juta m3 tahun 2010, dan 7 juta m3 tahun 2011 – sementara tidak ada peningkatan signifikan suplai air PAM.

Harusnya, Proyek NCICD – sebelum bersemangat membuat pulau-pulau berwajah garuda dan mengambil uang dari transaksi penjualan hak penggunaan pulau yang belum jadi itu – lebih dahulu menghentikan pengambilan air tanah di Jakarta. Pemda DKI harus menata ulang pendataan para pelanggan air tanah, menindak semua pencuri air tanah, dan meningkatkan suplai air bersih dari PAM jika tidak ingin Jakarta tenggelam.

Written by Harry Surjadi

12 August 2016 at 20:31

Ahok, Ini PR Anda: Indeks Air Jakarta Ke-47 dari 50 Kota

leave a comment »

JUM’AT, 13 MEI 2016 | 11:48 WIB

TEMPO.CO, Rotterdam – Arcadis, perusahaan konsultan khusus bidang lingkungan, meluncurkan Arcadis Sustainable Cities Water Index 2016 di Rotterdam, Belanda. Indeks ini hanya untuk 50 kota di dunia. Jakarta berada di posisi ke-47 dan Rotterdam di urutan pertama. Sedangkan New Delhi, India, berada di posisi buncit.

Arcadis mengumumkan indeks tersebut di Rotterdam, 10 Mei 2016. Mentor Tempo SMS, Harry Surjadi, hadir dalam acara tersebut. Buruknya kualitas air Jakarta menjadi salah satu pekerjaan berat Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama.

Frank Goossensen, Direktur Water Europe Arcadis, mengatakan ada tiga elemen atau subindeks yang menjadi dasar perhitungan indeks itu: ketahanan, efisiensi, dan kualitas.

Subindeks ketahanan menggambarkan seberapa siap sebuah kota mengatasi kondisi terlalu sedikit air dan terlalu banyak air, melindungi warganya dari bencana banjir dan kekeringan dengan tetap memastikan ketersediaan air bersih.

Subindeks efisiensi dinilai, antara lain, dari apakah masih ada kebocoran dalam distribusi dan bagaimana kota mengelola air limbah dan sanitasi. Subindeks kualitas menunjukkan seberapa baik bersih dan aman untuk kesehatan air yang disediakan kota.

Jika berdasarkan subindeks ketahanan (resiliency), Jakarta ada di posisi ke-38. Bandingkan dengan Tokyo yang ada di urutan ke-41. Posisi paling buncit untuk ketahanan ditempati Manila.

Jakarta berada di posisi ke-46 dalam subindeks efisiensi. Pada subindeks ini, New Delhi kembali berada di posisi buncit. Adapun Copenhagen adalah kota paling efisien dalam mengelola air.

Toronto, Kanada, menyediakan air paling berkualitas untuk warganya. Jakarta berada di posisi ke-45 dalam subindeks kualitas. Sedangkan Manila paling buruk airnya.

Goossensen menjelaskan, indeks dan subindeks dihitung berdasarkan data terbuka yang tersedia di berbagai institusi di dunia.

YOSEP

Artikel di tempo.co: https://metro.tempo.co/read/news/2016/05/13/083770661/ahok-ini-pr-anda-indeks-air-jakarta-ke-47-dari-50-kota

Written by Harry Surjadi

12 August 2016 at 20:01

Tiga Penghambat Banjir: Melawan Air dengan Air

leave a comment »

TEMPO.CO, Delft, Belanda: Karung berisi pasir menjadi andalan untuk menghambat air banjir masuk ke dalam rumah atau menghambat air banjir masuk ke fasilitas penting. Tidak mudah mencari pasir saat banjir datang di kota besar. Saat hujan dan banjir, yang tersedia hanyalah air.

Tiga perusahaan di Belanda dengan kreatif menciptakan penghambat air banjir pengganti karung pasir. Produk-produk mereka sudah diuji coba di fasilitas Flood Proof Holand, Delf Technical University, Belanda. Ketiga produk itu “TubeBarrier, Velox, dan BoxBarrier“ menerapkan prinsip melawan air dengan air atau fighting water with water

Para peserta International Climate Change Adaptation Conference ke-4 di Rotterdam, Belanda, 13 Mei 2016, melihat demo bagaimana tiga produk pengganti karung pasir berfungsi.

TubeBarrier “yang diciptakan oleh Robert Alt“ adalah salah satu dari tiga contoh pengganti karung pasir. Sebelum dipasarkan, TubeBarrier diujicobakan di Flood Proof Holand. Setelah melewati ratusan kali uji coba selama dua tahun, barulah produk ini berani dipasarkan.

TubeBarrier terbuat dari bahan kain (tarpaulin) PVC yang fleksibel dan tahan air. Penghalang air banjir ini berukuran 60 cm x 60 cm x 100 cm, berbentuk seperti tabung dengan ukuran panjang 5 meter, atau 7 meter atau 10 meter (tergantung kebutuhan).

Di bagian bawah TubeBarrier ada lubang-lubang agar air banjir bisa masuk mengisi tabung mengikuti ketinggian air banjir. TubeBarrier bisa menghambat air banjir dengan ketinggian hingga 50 cm hingga 70 cm.

Sementara itu, BoxBarrier menerapkan prinsip yang sama dengan TubeBarrier yaitu menahan air banjir dengan air. BoxBarrier berupa kotak berukuran 90 cm x 60 cm x 60 cm terbuat dari bahan plastik. BoxBarrier bisa menahan ketinggian banjir kurang dari 60 cm.

Bukan hanya berfungsi menahan air banjir masuk ke fasilitas penting seperti TubeBarrier, BoxBarrier setelah terpasang bisa menjadi jalur kering untuk orang berjalan di tengah-tengah genangan air. Berbeda dengan TubeBarrier, air harus dimasukkan ke dalam BoxBarrier menggunakan pompa.

Adapun Velox terbuat dari bahan kain plastik mirip dengan TubeBarrier. Velox bisa menahan air banjir hingga ketinggian kurang dari 1 meter. Air otomatis mengisi Velox yang sudah terpasang. Kelebihan Velox adalah mudah penyimpanan, tidak membutuhkan pompa, bisa menggantikan ratusan (770) karung pasir dan tahan lama.

Video dan Naskah: Harry Surjadi
Editor dan Pengisi Suara: Ngarto Februana

Written by Harry Surjadi

12 August 2016 at 17:34

%d bloggers like this: