Harrysurjadi's Blog

Environmental news

Archive for the ‘In Bahasa Indonesia’ Category

Ahok, Ini PR Anda: Indeks Air Jakarta Ke-47 dari 50 Kota

leave a comment »

JUM’AT, 13 MEI 2016 | 11:48 WIB

TEMPO.CO, Rotterdam – Arcadis, perusahaan konsultan khusus bidang lingkungan, meluncurkan Arcadis Sustainable Cities Water Index 2016 di Rotterdam, Belanda. Indeks ini hanya untuk 50 kota di dunia. Jakarta berada di posisi ke-47 dan Rotterdam di urutan pertama. Sedangkan New Delhi, India, berada di posisi buncit.

Arcadis mengumumkan indeks tersebut di Rotterdam, 10 Mei 2016. Mentor Tempo SMS, Harry Surjadi, hadir dalam acara tersebut. Buruknya kualitas air Jakarta menjadi salah satu pekerjaan berat Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama.

Frank Goossensen, Direktur Water Europe Arcadis, mengatakan ada tiga elemen atau subindeks yang menjadi dasar perhitungan indeks itu: ketahanan, efisiensi, dan kualitas.

Subindeks ketahanan menggambarkan seberapa siap sebuah kota mengatasi kondisi terlalu sedikit air dan terlalu banyak air, melindungi warganya dari bencana banjir dan kekeringan dengan tetap memastikan ketersediaan air bersih.

Subindeks efisiensi dinilai, antara lain, dari apakah masih ada kebocoran dalam distribusi dan bagaimana kota mengelola air limbah dan sanitasi. Subindeks kualitas menunjukkan seberapa baik bersih dan aman untuk kesehatan air yang disediakan kota.

Jika berdasarkan subindeks ketahanan (resiliency), Jakarta ada di posisi ke-38. Bandingkan dengan Tokyo yang ada di urutan ke-41. Posisi paling buncit untuk ketahanan ditempati Manila.

Jakarta berada di posisi ke-46 dalam subindeks efisiensi. Pada subindeks ini, New Delhi kembali berada di posisi buncit. Adapun Copenhagen adalah kota paling efisien dalam mengelola air.

Toronto, Kanada, menyediakan air paling berkualitas untuk warganya. Jakarta berada di posisi ke-45 dalam subindeks kualitas. Sedangkan Manila paling buruk airnya.

Goossensen menjelaskan, indeks dan subindeks dihitung berdasarkan data terbuka yang tersedia di berbagai institusi di dunia.

YOSEP

Artikel di tempo.co: https://metro.tempo.co/read/news/2016/05/13/083770661/ahok-ini-pr-anda-indeks-air-jakarta-ke-47-dari-50-kota

Advertisements

Written by Harry Surjadi

12 August 2016 at 20:01

Tiga Penghambat Banjir: Melawan Air dengan Air

leave a comment »

TEMPO.CO, Delft, Belanda: Karung berisi pasir menjadi andalan untuk menghambat air banjir masuk ke dalam rumah atau menghambat air banjir masuk ke fasilitas penting. Tidak mudah mencari pasir saat banjir datang di kota besar. Saat hujan dan banjir, yang tersedia hanyalah air.

Tiga perusahaan di Belanda dengan kreatif menciptakan penghambat air banjir pengganti karung pasir. Produk-produk mereka sudah diuji coba di fasilitas Flood Proof Holand, Delf Technical University, Belanda. Ketiga produk itu “TubeBarrier, Velox, dan BoxBarrier“ menerapkan prinsip melawan air dengan air atau fighting water with water

Para peserta International Climate Change Adaptation Conference ke-4 di Rotterdam, Belanda, 13 Mei 2016, melihat demo bagaimana tiga produk pengganti karung pasir berfungsi.

TubeBarrier “yang diciptakan oleh Robert Alt“ adalah salah satu dari tiga contoh pengganti karung pasir. Sebelum dipasarkan, TubeBarrier diujicobakan di Flood Proof Holand. Setelah melewati ratusan kali uji coba selama dua tahun, barulah produk ini berani dipasarkan.

TubeBarrier terbuat dari bahan kain (tarpaulin) PVC yang fleksibel dan tahan air. Penghalang air banjir ini berukuran 60 cm x 60 cm x 100 cm, berbentuk seperti tabung dengan ukuran panjang 5 meter, atau 7 meter atau 10 meter (tergantung kebutuhan).

Di bagian bawah TubeBarrier ada lubang-lubang agar air banjir bisa masuk mengisi tabung mengikuti ketinggian air banjir. TubeBarrier bisa menghambat air banjir dengan ketinggian hingga 50 cm hingga 70 cm.

Sementara itu, BoxBarrier menerapkan prinsip yang sama dengan TubeBarrier yaitu menahan air banjir dengan air. BoxBarrier berupa kotak berukuran 90 cm x 60 cm x 60 cm terbuat dari bahan plastik. BoxBarrier bisa menahan ketinggian banjir kurang dari 60 cm.

Bukan hanya berfungsi menahan air banjir masuk ke fasilitas penting seperti TubeBarrier, BoxBarrier setelah terpasang bisa menjadi jalur kering untuk orang berjalan di tengah-tengah genangan air. Berbeda dengan TubeBarrier, air harus dimasukkan ke dalam BoxBarrier menggunakan pompa.

Adapun Velox terbuat dari bahan kain plastik mirip dengan TubeBarrier. Velox bisa menahan air banjir hingga ketinggian kurang dari 1 meter. Air otomatis mengisi Velox yang sudah terpasang. Kelebihan Velox adalah mudah penyimpanan, tidak membutuhkan pompa, bisa menggantikan ratusan (770) karung pasir dan tahan lama.

Video dan Naskah: Harry Surjadi
Editor dan Pengisi Suara: Ngarto Februana

Written by Harry Surjadi

12 August 2016 at 17:34

Menghidupkan Ciliwung

leave a comment »

Berita banjir menyita halaman surat kabar, majalah, dan waktu siar televisi ataupun radio. Tidak ada penjelasan sedikit pun “apa itu banjir”. Media berasumsi semua pembaca, pendengar, dan pemirsa sudah tahu pengertian banjir.

Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai mendefinisikan banjir sebagai “peristiwa meluapnya air sungai melebihi palung sungai” (Pasal 1 ayat 7). Definisi ini masih tidak menjelaskan banjir dengan pas.

Danau Sentarum, Kalimantan Barat, saat musim kemarau menjadi dataran kering. Danau Sentarum bisa dijelajahi dengan sepeda motor sampai bagian tengah danau karena danau mengering. Ketika musim hujan, seluruh wilayah Danau Sentarum penuh dengan air. Apakah Danau Sentarum kebanjiran? Tidak. Banjir terjadi ketika air merendam lingkungan buatan manusia. Jika air merendam wilayah yang tidak ada manusianya atau lingkungan hidup tanpa manusia, namanya bukan banjir.

Cara mengatasi banjir sederhana: jangan membuat rumah di dataran banjir (floodplain). Namun prakteknya tidak sesederhana itu karena sungai sebenarnya hidup. Sungai yang hidup (living river) itu dinamis, menunjang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Sungai yang hidup berkelok-kelok, dan kelokan ini bisa berubah. Sungai Ciliwung, yang terpecah menjadi 13 anak sungai, sudah sekarat. Aliran anak Ciliwung di utara sudah mati. Airnya hitam, berbau, dan tidak punya oksigen.

Sungai Napa melintasi wilayah California bagian tengah sebelum berakhir di Teluk San Francisco, Amerika Serikat. Setelah penduduk Kota Napa 22 kali kebanjiran dalam kurun 150 tahun, pemerintah federal menugaskan US Army Corps of Engineers (Corps) untuk mengatasi banjir di daerah aliran Sungai Napa. Corps mengajukan sungai yang lebih dalam dan lurus melintasi Kota Napa. Tiga kali warga menolak usul Corps, yakni pada 1976, 1977, dan setelah banjir besar pada 1986.

Warga Napa membentuk Community Coalition for Napa Flood Management yang kemudian menyepakati rencana mengatasi banjir dengan menerapkan prinsip living river (sungai yang hidup), yaitu prinsip yang menghargai pentingnya kehidupan ikan dan kehidupan liar lainnya, keterkaitan antara sungai dan dataran banjir, serta hubungan manusia dengan sungai itu.

Program itu memindahkan lebih dari 70 rumah dan 30 gedung komersial, menyediakan 160 hektare wilayah genangan, 60 hektare lahan basah musiman, dan mengembalikan 243 hektare dataran banjir yang sebelumnya dilindungi dari air dengan tanggul. Hasilnya: lebih dari 3.000 bangunan terlindungi dari banjir 100 tahunan, biaya asuransi turun drastis, bisnis-bisnis baru yang berkaitan dengan sungai bermunculan, dan 37 jenis ikan berkembang biak dengan subur.

Mengatasi banjir Jakarta berarti menghidupkan kembali Ciliwung. Menghidupkan Ciliwung bukan hanya secara ekologis (ikan dan makhluk air bisa hidup). Menghidupkan Ciliwung juga berarti mengembalikan nilai sosial, ekonomi, dan politik sungai itu.

Langkah pertama, menentukan seberapa luas dan di mana saja dataran banjir dengan menggunakan data banjir periodik dan data satelit. Tidak boleh ada bangunan di dataran banjir. Salah satu daerah dataran banjir yang perlu dinormalkan adalah pesisir utara Jakarta. Kesalahan penguasa lama adalah memberikan izin alih fungsi dataran banjir di utara menjadi perumahan mewah, sehingga tersisa suaka margasatwa Muara Angke seluas 25 hektare.

Batalkan rencana reklamasi pantai utara Jakarta dan pembuatan polder. Membangun polder atau dinding tinggi di sebelah utara Jakarta malah akan menyulitkan air genangan mengalir ke laut. Dan lupakan ide membuat saluran bawah tanah. Selain biayanya mahal, secara logika air tidak mungkin mengalir ke tempat yang lebih tinggi tanpa pompa.

Langkah kedua, bangunan di daerah banjir (berdasarkan peta daerah banjir), di sepanjang sempadan Ciliwung di Jakarta, harus dipindahkan.

Rehabilitasi pinggir sungai berlanjut hingga ke bagian hulu Ciliwung di Bogor, mengikuti Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011. Tanggung jawab dan program di wilayah hulu (Jakarta) berbeda dengan di hilir (Depok dan Bogor hingga Gunung Gede Pangrango). Lanjutkan pembongkaran bangunan (vila) yang tidak sesuai dengan RTRW-RBWK di Puncak, Bogor.

Alokasikan juga sebagian wilayah hulu (Depok, Bogor, dan Puncak) untuk danau. Daerah Sempur di Bogor sangat cocok untuk dijadikan danau yang bisa menampung cukup banyak air Ciliwung.

Langkah ketiga, mengeluarkan peraturan yang lebih pro-lingkungan dan memasukkan prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan sebagai roh dari peraturan. Misalnya, ubah ketentuan iuran sampah. Kalau sebelumnya iuran sampah flat, harus diubah sesuai dengan jumlah sampah yang dibuang. Anjuran mengolah sampah organik sendiri menjadi relevan dan ada insentif bagi keluarga yang tidak menghasilkan sampah. Slogan baru: kurangi sampah.

Menghidupkan kembali Sungai Ciliwung bukan pekerjaan setahun-dua tahun. Ini merupakan pekerjaan jangka panjang yang membutuhkan konsistensi, termasuk konsistensi kepemimpinan di daerah-daerah yang dilalui Ciliwung. Dan jangan lupa libatkan warga dengan selalu memberikan informasi.

(Sudah dipublikasikan di Koran Tempo tanggal 11 Februari 2014: http://koran.tempo.co/konten/2014/02/11/334518/Menghidupkan-Ciliwung)

Written by Harry Surjadi

11 February 2014 at 14:27

Kehidupan Setelah Minyak Bumi Habis

leave a comment »

Setiap detik kehidupan sehari-hari kita – mahluk hidup – membutuhkan, mengonsumsi, dan mengeluarkan energi. Pergi dan pulang kantor, kita butuh energi. Ruang kerja di kantor menggunakan energi. Piranti elektronik di rumah – televisi, radio, microwave, tape recorder, laptop komputer – membutuhkan energi agar bisa dimanfaatkan. Memasak makan malam, butuh energi.

Sumber energi kita berasal dari makanan yang masuk ke dalam tubuh. Berapa banyak energi yang kita butuhkan akan sangat tergantung dari apa yang kita konsumsi dan gaya hidup kita.

Sepotong rendang daging sapi yang tersedia di piring makan di rumah Anda di Jakarta membutuhkan energi berbeda-beda jumlahnya. Semakin jauh letak peternakan sapi, semakin banyak energi yang dibutuhkan. Sepotong daging rendang sapi dari Australia membutuhkan lebih banyak energi untuk membawanya ke Jakarta dibandingkan sepotong daging rendang sapi dari Bali.

Demikian juga air yang kita minum. Ketika meminum teh hangat kita mengonsumsi lebih banyak energi dibandingkan meminum air putih suhu ruangan. Lebih banyak lagi energi yang kita konsumsi ketika kita meminum minuman ringan dalam kaleng.

Mandi dengan air panas lebih banyak energi dibandingkan mandi air suhu ruang. Pergi ke kantor menggunakan mobil sendiri (dan sendiri di mobil) membutuhkan lebih banyak energi dibandingkan naik kereta listrik atau bus umum atau naik sepeda.

Ada tiga jenis energi dalam sudut pandang pemanfaatannya. Pertama sumber energi utama (primary energy) yaitu sumber energi yang belum diproses. Sumber energi utama misalnya minyak mentah, panas bumi, batu bara, angin, sinar matahari.

Kedua, energi akhir (final energy) yaitu energi dalam bentuk yang bisa dimanfaatkan manusia. Energi akhir ini misalnya bensin, minyak tanah, solar, LPG, listrik, air panas yang berasal dari panas bumi.

Ketiga, energi efektif (effective energy) yaitu energi hasil pemanfaatan energi akhir dalam bentuk yang berguna seperti cahaya, gerak kendaraan bermotor, panas radiator.

Sumber energi utama ini bisa dibagi ke dalam dua golongan yaitu: 1) energi yang tidak terbarukan dan 2) energi yang terbarukan. Energi tidak terbarukan antara lain minyak bumi, gas alam, batu bara, dan uranium (energi nuklir). Energi terbarukan antara lain biomassa, energi gerak air, panas bumi, angin, sinar matahari, ombak laut.

Selama ini pasokan energi kegiatan manusia Indonesia terutama dari energi tidak terbarukan yaitu minyak bumi, batu bara, dan gas bumi. Data Ditjen Migas menunjukkan konsumsi BBM tahun 2011 mencapai 394 juta barel dan LPG (yang juga berasal dari minyak bumi) sebanyak 56 juta SBM (setara barel minyak). Produksi BBM dalam negeri 239 juta barel. Indonesia mengimport BBM dari sembilan negara sebanyak 96 juta barel pada tahun yang sama. Konsumsi BBM grafiknya naik terus. Padahal, berdasarkan perkiraan, Indonesia memiliki cadangan minyak bumi sebanyak 7,73 miliar barel.

Sebagian sumber energi adalah baru bara. Konsumsi batu bara antara 75-80 juta ton untuk pembangkit listrik tenaga uap. Meskipun jumlah cadangan batu bara Indonesia 6,7 miliar ton, tetap saja satu saat akan habis juga.

Satu hari nanti minyak bumi dan batu bara akan habis, dan juga sumber energi tidak terbarukan lainnya, seperti gas alam. Bagaimana kita menghadapi habisnya sumber energi tidak terbarukan ini?

Ada tiga upaya sebagai persiapan menyongsong “kehidupan setelah minyak bumi habis” yaitu: 1) mengonservasi energi; 2) efisiensi energi; dan 3) memanfaatkan sumber energi terbarukan.

Konservasi

Energi ketika digunakan sebenarnya tidak habis atau hilang. Habis atau hilang adalah istilah sehari-hari untuk menggambarkan satu bentuk energi berubah menjadi energi lainnya. Misalnya, bensin yang dibakar di dalam mesin mobil berubah dari energi dalam bentuk kimia cair menjadi bentuk energi panas dan gerak. Jadi sebenarnya kita tidak bisa menabung energi, yang bisa adalah mengubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi bermanfaat lainnya.

Konservasi energi – menurut pendapat awam – adalah menghemat energi meskipun kurang tepat.  Bagaimana menggunakan sedikit mungkin sumber energi utama yang akan habis ini tanpa mengurangi tujuan. Konservasi energi adalah satu upaya perencanaan pemanfaatan energi sehemat mungkin. Berangkat ke kantor naik sepeda bukan naik mobil pribadi sendiri adalah bentuk konservasi energi.

Dalam bentuk lebih rumit, konservasi energi adalah upaya mengurangi terbuangnya energi dalam bentuk energi yang tidak dimanfaatkan. Misalnya, mengurangi terbuangnya energi panas yang dihasilkan dari pembakaran bensin di dalam mesin mobil.

Manfaat lain dari konservasi energi adalah baik untuk lingkungan, misalnya polusi udara lebih sedikit dan mengurangi dampak lingkungan, terutama hutan dan keanekaragaman hayatinya, ketika mengeksploitasi sumber energi utama.

Efisiensi

Sering konservasi energi dan efisiensi energi digunakan bergantian dengan makna yang sama. Efisiensi energi menjelaskan hubungan antara aktivitas dengan penggunaan energinya. Misalnya, menggunakan lampu LED lebih efisien untuk penerangan dibandingkan menggunakan lampu pijar karena untuk menghasilkan kecerahan yang sama lampu pijar membutuhkan energi listrik yang lebih besar dibandingkan lampu LED.

Pemerintah sudah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi. Pasal 1 Ayat 1 PP 70/2009 mendefinisikan “konservasi energi adalah upaya sistematis, terencana, dan terpadu guna melestarikan sumber daya energi dalam negeri serta meningkatkan efisiensi pemanfaatannya.

Yang terbarukan

Memanfaatkan energi terbarukan secara esensi adalah bagian dari konservasi energi sebagai konsekuensi menghemat energi yang tidak bisa diperbaharui. Indonesia memiliki potensi besar sumber energi terbarukan. Total listrik yang bersumber dari energi terbarukan berasal dari tenaga air dan panas bumi tahun 2009 mencapai 8.761 MW dan yang berasal dari bahan bakar nabati sebanyak 2.774.000 kilo liter.

Potensi energi terbarukan Indonesia, menurut Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Djadjang Sukarna, cukup untuk 100 tahun (Kompas.com, 23 November 2012).

Indonesia, berdasarkan data Energici Holding Inc. dari Kanada, tahun 2011 Indonesia menggunakan energi terbarukan gabungan biomassa, geotermal, hidroelektrik, sinar matahari, dan angin, sebesar 6.049 megawatts. Di antara negara di Asia, Indonesia no 5 dan di dunia no 29 diukur dari jumlah pemanfaatan energi terbarukan. Indonesia dibawah Pakistan. Bandingkan dengan Cina – negara no 1 pengguna energi terbarukan – yaitu 301.440 megawatts, 50 kali lebih besar dari Indonesia.

Ikut andil

Marilah kita ikut andil dalam konservasi energi, efisiensi energi, dan memanfaatkan energi terbarukan. Sekecil apa pun tindakan kita akan sangat membantu mengonservasi dan efisiensi energi.

Mulailah hemat energi dengan hemat air saat mandi dengan tidak mandi air hangat dan menggunakan shower. Ganti lampu pijar dengan lampu TL. Cabut kabel listrik peralatan elektronik dari sumber listrik dan matikan lampu sebelum tidur dan ketika tidak digunakan. Lebih baik pakaian dijemur daripada menggunakan pengering di mesin cuci. Manfaatnya terasa di akhir bulan ketika membayar tagihan listrik.

Ke kantor naik kendaraan umum atau sepeda. Jika tidak mungkin, upayakan berangkat bersama kawan lainnya di dalam satu mobil (carpooling), pastikan rute terdekat dari rumah ke kantor (ecodriving). Memanfaatkan cahaya alami untuk penerangan, pastikan suhu ruang berpendingin rata-rata 26 derajat Celsius, kenakan pakaian berbahan tipis dan tetap formal, matikan komputer dan lampu usai jam kerja, hemat kertas membantu hemat energi juga.

Mulailah mengonservasi energi dan efisiensi energi pada hari ini. Jangan ditunda lagi. Konservasi dan efisiensi energi bukan berarti membuat hidup ini menjadi tidak nyaman. Malah mengupayakan konservasi dan efisiensi membuat hidup lebih baik karena polusi berkurang, tubuh lebih sehat, hubungan sosial lebih baik, dan rekening listrik lebih rendah.

Written by Harry Surjadi

26 December 2012 at 15:53

%d bloggers like this: