Harrysurjadi's Blog

Environmental news

Tiga Penghambat Banjir: Melawan Air dengan Air

leave a comment »

TEMPO.CO, Delft, Belanda: Karung berisi pasir menjadi andalan untuk menghambat air banjir masuk ke dalam rumah atau menghambat air banjir masuk ke fasilitas penting. Tidak mudah mencari pasir saat banjir datang di kota besar. Saat hujan dan banjir, yang tersedia hanyalah air.

Tiga perusahaan di Belanda dengan kreatif menciptakan penghambat air banjir pengganti karung pasir. Produk-produk mereka sudah diuji coba di fasilitas Flood Proof Holand, Delf Technical University, Belanda. Ketiga produk itu “TubeBarrier, Velox, dan BoxBarrier“ menerapkan prinsip melawan air dengan air atau fighting water with water

Para peserta International Climate Change Adaptation Conference ke-4 di Rotterdam, Belanda, 13 Mei 2016, melihat demo bagaimana tiga produk pengganti karung pasir berfungsi.

TubeBarrier “yang diciptakan oleh Robert Alt“ adalah salah satu dari tiga contoh pengganti karung pasir. Sebelum dipasarkan, TubeBarrier diujicobakan di Flood Proof Holand. Setelah melewati ratusan kali uji coba selama dua tahun, barulah produk ini berani dipasarkan.

TubeBarrier terbuat dari bahan kain (tarpaulin) PVC yang fleksibel dan tahan air. Penghalang air banjir ini berukuran 60 cm x 60 cm x 100 cm, berbentuk seperti tabung dengan ukuran panjang 5 meter, atau 7 meter atau 10 meter (tergantung kebutuhan).

Di bagian bawah TubeBarrier ada lubang-lubang agar air banjir bisa masuk mengisi tabung mengikuti ketinggian air banjir. TubeBarrier bisa menghambat air banjir dengan ketinggian hingga 50 cm hingga 70 cm.

Sementara itu, BoxBarrier menerapkan prinsip yang sama dengan TubeBarrier yaitu menahan air banjir dengan air. BoxBarrier berupa kotak berukuran 90 cm x 60 cm x 60 cm terbuat dari bahan plastik. BoxBarrier bisa menahan ketinggian banjir kurang dari 60 cm.

Bukan hanya berfungsi menahan air banjir masuk ke fasilitas penting seperti TubeBarrier, BoxBarrier setelah terpasang bisa menjadi jalur kering untuk orang berjalan di tengah-tengah genangan air. Berbeda dengan TubeBarrier, air harus dimasukkan ke dalam BoxBarrier menggunakan pompa.

Adapun Velox terbuat dari bahan kain plastik mirip dengan TubeBarrier. Velox bisa menahan air banjir hingga ketinggian kurang dari 1 meter. Air otomatis mengisi Velox yang sudah terpasang. Kelebihan Velox adalah mudah penyimpanan, tidak membutuhkan pompa, bisa menggantikan ratusan (770) karung pasir dan tahan lama.

Video dan Naskah: Harry Surjadi
Editor dan Pengisi Suara: Ngarto Februana

Advertisements

Written by Harry Surjadi

12 August 2016 at 17:34

Media and Climate Change: Engage the Audiences

leave a comment »

Public perception and understanding of climate change were varies. The public wrongly perceives climate change as weather. They think ozone hole also causes climate change. And there are many misperceptions among the public.

The media plays a critical role in communicating the climate change to the public. If the media workers or reporters and editors also understand climate change wrongly, it will transfer the incorrectness to the public. Meanwhile, media has important role to inform, and even more to raise public awareness on climate change.

It’s not easy to answer how media can increase public awareness and understanding on climate change and on the same time to encourage citizen to become more involve with environmental issues, especially climate change.

Researches have shown that their surrounding environment can influence beliefs about climate change or global warming. Global warming correlated positively with outdoor temperature. Respondents who thought that the day was warmer than usual expressed a stronger belief and a greated concern about global warming than respondents who thought that the day was colder than usual. Even they also donated more money to a global warming charity if they thought that the day seemed warmer than usual (Li, Johnson, and Zaval, 2011).

In an experimental condition showed that participants were more likely to believe in global warming in presence of the tree without foliage in the room (Gueguen, 2012). This belief increased in presence of three rather than one tree without foliage. Other beliefs not related to global warming were not affected by the present of plant without foliage or with foliage. These researches revealed that surrounding physical cues do affect beliefs about global warming. And media – as the main source of information on climate change – should aware of this.

Media has limitations.

  1. Media coverage on climate change was driven by event as shown in monitoring data done by Center for Science and Technology Policy Research, University of Colorado at Boulder. [1]
  2. Numbers of environmental journalists around the world is decreasing
  3. It’s not easy for journalists to understand complicated and complex issues such as climate change. It implies to low interest among journalists to cover climate change issues
  4. Climate change issues do not touch everyday lives. Therefore it’s difficult for media trying make connection from experiences and observation. It’s also difficult for media audiences to comprehend climate change.
  5. Media has follow journalistic norms such as: objectivity, fairness, accuracy, balance, dramatization, personalization, novelty, and authority order.
  6. Mainstream media, especially in developing countries, only serve 30% of people on the top of population pyramid and neglect about 50% people on the bottom of the pyramid

Then, what media should do.

  1. Media or journalists should use global warming term rather than climate change
  2. Media should answer four important questions from audiences: why is it important; what does it mean to me (audiences); what can/should I do about it; and what is the point.
  3. Journalists should take position
  4. Media should use the new trend in journalism that is data journalism to produce interactive and easy to understand stories
  5. Journalists should frame the climate change or global warming issues in “sustainable consumption and production” that will keep the issue down to earth
  6. Media should engage the audiences more with two ways:
  7. Open access for 50% people on the bottom of population pyramid. The last three years, I developed the climate change communication model for grass-root community in West Kalimantan.[2]
  8. Engage media audiences in activities such as environmental expeditions

References:

Li, Y., Johnson, E., & Zaval, L. 2011. Local warming: Daily temperature change influences belief in global warming. Psychological Science, 22: 454459

Guéguen, Nicolas. 2012. Dead indoor plants strengthen belief in global warming. Journal of Environmental Psychology 32: 173177

[1] See: http://sciencepolicy.colorado.edu/icecaps/research/media_coverage/world/index.html. Accessed 20 November 2014

[2] See https://harrysurjadi.wordpress.com/2012/09/19/information-broker-communicating-and-monitoring-climate-change/ Accessed 20 November 2014

Written by Harry Surjadi

20 November 2014 at 12:14

Indonesia Bukan Tempat Pembuangan Limbah Beracun

leave a comment »

SEJAK tahun 1980-an, Indonesia sudah menjadi tujuan negara maju sebagai tempat pembuangan limbah beracun, baik legal maupun ilegal. Pulau Ayu (Papua) mengajukan izin untuk menjadi tempat pembuangan limbah. Tanjung Ucang, Batam, berencana menjadi tempat pengolahan limbah sisa hidrokarbon kapal tanker. Sejumlah pengusaha meminta izin mengimpor limbah B3 hasil cucian tanker dari Singapura untuk bahan bakar pembuatan kapur.

Taiwan sudah lama berupaya membuang limbah radioaktifnya ke wilayah Indonesia. Taiwan pernah mengajukan permohonan menyewa satu pulau untuk tempat buangan limbah radioaktif, tetapi waktu itu ditolak oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal). Maka, Taiwan pun berupaya menyelundupkan limbah radioaktif− dicampur dengan barang bekas− ke pelabuhan tanpa pemantauan ketat di Indonesia timur.

Pada tahun 2000, Kota Sangata, Kabupaten Kutai, Kaltim, setuju menerima abu vulkanis dari Gunung Ohyama, Pulau Myake, Jepang. Limbah piroklastik itu akan digunakan untuk membuat jalan, jembatan, dan fasilitas lainnya, termasuk sebagai bahan bangunan. Pemda Sangata tergiur karena gratis ongkos kirim dan ada kompensasi uang sesuai jumlah abu.

PT Indosolor Sakti mengajukan izin mengimpor limbah non-B3 untuk diolah di Solor Timur, Pulau Flores bagian timur, dengan alasan antara lain kegiatan itu akan memberikan lapangan pekerjaan untuk 600 orang. Bahkan, PT Indosolor Sakti sudah membangun sarana penampungan sepanjang 120 meter dan sudah mendapatkan izin dari Ditjen Perdagangan Luar Negeri untuk mengimpor logam bekas (scrap metal) dari Taiwan.

PT Dunia Abad Baru Prima mengajukan izin mengimpor ”urban organic waste” alias sampah lagi-lagi dari Taiwan untuk membuat kompos di Pulau Sangiang, NTT. Jumlahnya 100.000-200.000 ton sampah per bulan, seolah-olah itu sampah organik semua. Kenyataannya, Taiwan menjadikan Indonesia tempat pembuangan akhir.

PT MG bermitra dengan Malaysia, Singapura, dan negara maju lainnya terang-terangan mengajukan izin mengolah limbah industri di Berau, Kaltim. Limbah berupa karet dan kulit sisa produksi, plastik, limbah medis (seperti jarum suntik), logam bekas, limbah kemasan, limbah dari industri pangan fermentasi, dan berbagai bahan kimia beracun. Jika proyek ini disetujui, PT MG akan membayar 500.000 dollar AS ke pemda setiap tahun untuk proyek 10 tahun, plus pajak 2 juta dollar AS per tahun.

Semua itu adalah limbah B3 yang coba dimasukkan ke wilayah Indonesia. Industri di dalam negeri sebenarnya sudah menumpuk banyak sekali limbah B3 karena hanya ada satu tempat resmi pengolahan limbah B3, yaitu di Cileungsi, Jawa Barat.

Bapedal

Semua upaya memasukkan limbah B3 ke wilayah Indonesia baik secara legal maupun ilegal bisa digagalkan karena dua hal.

Pertama, ketika itu masih ada Bapedal dan Bapedal Wilayah. Bapedal—seperti Environmental Protection Agency di AS—berwenang mengendalikan pencemaran limbah di seluruh wilayah Indonesia. Bapedal bisa menutup pabrik yang melanggar peraturan. Sayangnya, Bapedal dilebur ke dalam Kementerian Lingkungan Hidup oleh Presiden Megawati Soekarnoputri sehingga pengawasan limbah B3 dan pencemaran oleh industri kurang diperhatikan.

Kedua, karena UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup No 32 Tahun 2009 (revisi UU Lingkungan Tahun 1982) yang melarang siapa pun membuang limbah (bukan hanya limbah B3) ke wilayah Indonesia dan Peraturan Pemerintah No 85 Tahun 1999 mengenai Pengelolaan Limbah B3.

Emil Salim merencanakan akan membangun empat fasilitas pengolah limbah B3, yaitu di: 1) Cileungsi (untuk menampung limbah B3 wilayah Jabodetabek); 2) Jawa Timur; 3) Kalimantan Timur; 4) Lhokseumawe. Namun, yang sudah beroperasi hanya Cileungsi. Konsekuensinya, semua limbah B3 di Indonesia harus dikirim ke Cileungsi.

Rancangan PP Limbah B3

Saat ini sedang dibahas rancangan peraturan pemerintah mengenai pengelolaan limbah B3 dan dumping. Rancangan peraturan pemerintah dengan rekor 283 pasal itu sangat teknis, dengan semangat yang kental memberikan izin sebagian ke pemda tingkat I dan II dan izin dumping ke laut.

Ketika pemda tingkat I dan II—tergantung wilayah kerja yang mengajukan izin—bisa memberikan izin untuk pengumpulan dan penyimpanan limbah B3, apakah ada yang bisa menjamin tidak akan menyimpang? Apakah cukup kapasitas pemda memberikan izin?

Pasal 213 sangat jelas membolehkan setiap orang membuang (dumping) limbah B3 ke lingkungan dengan legal karena ada proses pengajuan izin. Apakah pesisir di seluruh Indonesia siap menerima limbah B3? Di AS, EPA memang tidak melarang dumping tailing ke laut, tetapi persyaratannya sangat tidak memungkinkan dipenuhi.

Pertanyaan mendasar sebenarnya, apakah perlu merevisi PP Limbah B3 yang ada? Apakah dorongan revisi ini datang dari para pengusaha tambang dan industri penghasil limbah B3? Bagaimana harusnya sikap pemerintah?

Sebelum tanah-air-laut dan manusia Indonesia terlanjur tercemari limbah beracun, batalkan revisi PP limbah B3 karena peraturan yang sudah ada sudah cukup.

Kepada siapa pun yang menjadi presiden RI mendatang, bentuk lagi Badan Pengendalian Dampak Lingkungan dengan kewenangan penuh (seperti Environmental Protection Agency di Amerika Serikat) mengeluarkan izin, mencabut izin, dan mengendalikan semua persoalan pencemaran di Indonesia.

Terakhir, lanjutkan rencana pembangunan tempat pengolahan limbah di sentra industri yang pernah direncanakan Bapedal zaman lalu. Semua limbah B3—termasuk tailing dari kegiatan pertambangan−—harus diolah di tempat itu dengan pengawasan ketat dari Bapedal.

(Tulisan ini sudah disiarkan di Kompas siang tanggal 12 Maret 2014)

http://print.kompas.com/2014/03/12/Indonesia-Bukan-Tempat-Pembuangan-Limbah-Beracun

Written by Harry Surjadi

12 March 2014 at 21:29

Menghidupkan Ciliwung

leave a comment »

Berita banjir menyita halaman surat kabar, majalah, dan waktu siar televisi ataupun radio. Tidak ada penjelasan sedikit pun “apa itu banjir”. Media berasumsi semua pembaca, pendengar, dan pemirsa sudah tahu pengertian banjir.

Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai mendefinisikan banjir sebagai “peristiwa meluapnya air sungai melebihi palung sungai” (Pasal 1 ayat 7). Definisi ini masih tidak menjelaskan banjir dengan pas.

Danau Sentarum, Kalimantan Barat, saat musim kemarau menjadi dataran kering. Danau Sentarum bisa dijelajahi dengan sepeda motor sampai bagian tengah danau karena danau mengering. Ketika musim hujan, seluruh wilayah Danau Sentarum penuh dengan air. Apakah Danau Sentarum kebanjiran? Tidak. Banjir terjadi ketika air merendam lingkungan buatan manusia. Jika air merendam wilayah yang tidak ada manusianya atau lingkungan hidup tanpa manusia, namanya bukan banjir.

Cara mengatasi banjir sederhana: jangan membuat rumah di dataran banjir (floodplain). Namun prakteknya tidak sesederhana itu karena sungai sebenarnya hidup. Sungai yang hidup (living river) itu dinamis, menunjang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Sungai yang hidup berkelok-kelok, dan kelokan ini bisa berubah. Sungai Ciliwung, yang terpecah menjadi 13 anak sungai, sudah sekarat. Aliran anak Ciliwung di utara sudah mati. Airnya hitam, berbau, dan tidak punya oksigen.

Sungai Napa melintasi wilayah California bagian tengah sebelum berakhir di Teluk San Francisco, Amerika Serikat. Setelah penduduk Kota Napa 22 kali kebanjiran dalam kurun 150 tahun, pemerintah federal menugaskan US Army Corps of Engineers (Corps) untuk mengatasi banjir di daerah aliran Sungai Napa. Corps mengajukan sungai yang lebih dalam dan lurus melintasi Kota Napa. Tiga kali warga menolak usul Corps, yakni pada 1976, 1977, dan setelah banjir besar pada 1986.

Warga Napa membentuk Community Coalition for Napa Flood Management yang kemudian menyepakati rencana mengatasi banjir dengan menerapkan prinsip living river (sungai yang hidup), yaitu prinsip yang menghargai pentingnya kehidupan ikan dan kehidupan liar lainnya, keterkaitan antara sungai dan dataran banjir, serta hubungan manusia dengan sungai itu.

Program itu memindahkan lebih dari 70 rumah dan 30 gedung komersial, menyediakan 160 hektare wilayah genangan, 60 hektare lahan basah musiman, dan mengembalikan 243 hektare dataran banjir yang sebelumnya dilindungi dari air dengan tanggul. Hasilnya: lebih dari 3.000 bangunan terlindungi dari banjir 100 tahunan, biaya asuransi turun drastis, bisnis-bisnis baru yang berkaitan dengan sungai bermunculan, dan 37 jenis ikan berkembang biak dengan subur.

Mengatasi banjir Jakarta berarti menghidupkan kembali Ciliwung. Menghidupkan Ciliwung bukan hanya secara ekologis (ikan dan makhluk air bisa hidup). Menghidupkan Ciliwung juga berarti mengembalikan nilai sosial, ekonomi, dan politik sungai itu.

Langkah pertama, menentukan seberapa luas dan di mana saja dataran banjir dengan menggunakan data banjir periodik dan data satelit. Tidak boleh ada bangunan di dataran banjir. Salah satu daerah dataran banjir yang perlu dinormalkan adalah pesisir utara Jakarta. Kesalahan penguasa lama adalah memberikan izin alih fungsi dataran banjir di utara menjadi perumahan mewah, sehingga tersisa suaka margasatwa Muara Angke seluas 25 hektare.

Batalkan rencana reklamasi pantai utara Jakarta dan pembuatan polder. Membangun polder atau dinding tinggi di sebelah utara Jakarta malah akan menyulitkan air genangan mengalir ke laut. Dan lupakan ide membuat saluran bawah tanah. Selain biayanya mahal, secara logika air tidak mungkin mengalir ke tempat yang lebih tinggi tanpa pompa.

Langkah kedua, bangunan di daerah banjir (berdasarkan peta daerah banjir), di sepanjang sempadan Ciliwung di Jakarta, harus dipindahkan.

Rehabilitasi pinggir sungai berlanjut hingga ke bagian hulu Ciliwung di Bogor, mengikuti Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011. Tanggung jawab dan program di wilayah hulu (Jakarta) berbeda dengan di hilir (Depok dan Bogor hingga Gunung Gede Pangrango). Lanjutkan pembongkaran bangunan (vila) yang tidak sesuai dengan RTRW-RBWK di Puncak, Bogor.

Alokasikan juga sebagian wilayah hulu (Depok, Bogor, dan Puncak) untuk danau. Daerah Sempur di Bogor sangat cocok untuk dijadikan danau yang bisa menampung cukup banyak air Ciliwung.

Langkah ketiga, mengeluarkan peraturan yang lebih pro-lingkungan dan memasukkan prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan sebagai roh dari peraturan. Misalnya, ubah ketentuan iuran sampah. Kalau sebelumnya iuran sampah flat, harus diubah sesuai dengan jumlah sampah yang dibuang. Anjuran mengolah sampah organik sendiri menjadi relevan dan ada insentif bagi keluarga yang tidak menghasilkan sampah. Slogan baru: kurangi sampah.

Menghidupkan kembali Sungai Ciliwung bukan pekerjaan setahun-dua tahun. Ini merupakan pekerjaan jangka panjang yang membutuhkan konsistensi, termasuk konsistensi kepemimpinan di daerah-daerah yang dilalui Ciliwung. Dan jangan lupa libatkan warga dengan selalu memberikan informasi.

(Sudah dipublikasikan di Koran Tempo tanggal 11 Februari 2014: http://koran.tempo.co/konten/2014/02/11/334518/Menghidupkan-Ciliwung)

Written by Harry Surjadi

11 February 2014 at 14:27

News That is Node-Worthy: An Idea For Connecting Community Radio Stations in Indonesia

leave a comment »

Worldwide, media outlets are increasingly mastering two-way communications channels. Radio and television stations are equipped to receive text messages, phone calls, and social media inputs. Staff can then decide to respond over broadcast, or back through the incoming channel. Yet these communications are often restricted to a single node; one community radio station, or a single television outlet, connecting to its own audience. There are often gaps in transmitting that information to other outlets who might also find that information relevant.

To take a specific example, there are thousands of community radio stations in Indonesia. While many are able to communicate in two-way channels with their audience, there is no standard service to share breaking news and other important information with other nearby stations. There is, in essence, a knowledge transfer gap between each singular node.

We propose that this problem can be addressed, and that Indonesia holds a particularly interesting possibility, because a structure exists that could relay information between relevant stations. Namely, hundreds of radio stations are organized under voluntary consortiums; the organizing bodies of these consortiums can serve as a hub to coordinate information to its various member stations. In developing such a network, we could create a wire service of sorts for low-bandwidth environments.

Organizing such a wire service could be done with FrontlineSMS, enabling local radio stations to exchange SMS, or text messages, with one another or with their parent organizing body. Further, the SMS can be broad enough to allow communities to participate in creating and reporting news via community information brokers (link to Harry’s post). The mechanism would create a dynamic, community-focused news network that will allow for the rapid transmission of critical information across a given region.

We could organize a pilot as follows: as a community radio station learns information that may be relevant to others, they can send a short message to the consortium headquarters. From there, staff can forward the message to any other member station that could be potentially affected by the news. This might include emergency alerts, news about government service delivery, or even off-air collaboration about common challenges. In the long term, radio stations might be able to share information directly with sister outlets, or receive and verify reports from community information brokers.

Even a small pilot project could connect hundreds of radio stations in this manner, with a reach of thousands of listeners. Best of all, this type of network can scale by connecting a variety of information nodes with simple, easy-to-use tools. It doesn’t rely on high-tech or high-bandwidth needs. The result would create unprecedented coverage capabilities, and build a stronger sense of connection across thousands of island communities.

This post was jointly written by Trevor Knoblich, Project Director at FrontlineSMS, and Harry Surjadi, Knight International Journalism Fellow and freelance journalist

Source: http://www.frontlinesms.com/2013/09/10/news-that-is-node-worthy-an-idea-for-connecting-community-radio-stations-in-indonesia-2/

Written by Harry Surjadi

11 September 2013 at 00:16

Ekonomi Komunitas

leave a comment »

Sejak partai-partai mengumumkan calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) mereka, pernyataan paling banyak adalah mengenai isu ekonomi. Semua pasangan mencoba membangun citra mereka yang peduli pada rakyat dengan menempelkan kata “ekonomi” dengan kaa “rakyat,” menjadi jargon kampanye tiga pasangan capres-cawapres.

Kata-kata “neo-kapitalis” ikut muncul ketika SBY mengumumkan Boediono sebagai cawapresnya. “Neo-kapitalis” seakan-akan lawan kata dari “ekonomi kerakyatan.” Boediono  dan tim kampanye SBY-Boediono “mati-matian” membantah tuduhan itu dengan segala jurus, informasi, dan data, yang menunjukkan bahwa Boediono juga berperspektif “ekonomi kerakyatan.” Selain JK-Wiranto, pasangan Mega-Prabowo ikut menyanyikan lagi “ekonomi kerakyatan” atau ekonomi yang pro-rakyat. Tapi, sejauh ini, tidak ada penjelasan utuh mengenai “ekonomi kerakyatan” yang dimaksud tiga pasangan capres-cawapres itu.

Adalah Julie Graham (http://www.communityeconomies.org/people/Julie-Graham) dan Katherine Gibson dalam buku mereka, A Postcapitalist Politics (2006 – http://www.upress.umn.edu/book-division/books/a-postcapitalist-politics), yang memperkenalkan ekonomi komunitas sebagai alternatif ekonomi non-kapitalis sesungguhnya. Bentuk ekonomi mandiri yang mencoba mengurangi ketergantungan pada ikatan ekonomi global dan nasional serta pengaruh buruk pergerakan kapital.

Apa bedanya ekonomi komunitas dengan ekonomi arus utama, yang dominan saat ini? Dua bentuk ekonomi ini sangat kontras satu dengan lainnya. Ekonomi komunitas melekat pada tempat atau lokasi, sedangkan ekonomi arus utama berskala global atau berdasarkan spasial. Ekonomi arus utama terspesialisasi. Misalnya, perusahaan otomotif hanya berbisnis otomotif. Sedangkan ekonomi komunitas bervariasi, tidak hanya satu rupa. Ekonomi arus utama berskala besar, kompetitif, dan terpusat. Ekonomi komunitas berskala kecil, mengedepankan kerja sama, dan terdesentralisasi.

Ekonomi arus utama berada di luar budaya, tidak melekat secara sosial, jauh berbeda dari ekonomi komunitas yang sangat berdasarkan budaya dan melekat secara sosial. Pemilik ekonomi komunitas adalah masyarakat lokal dan menyebar. Ekonomi arus utama tidak memiliki masyarakat lokasl dan pengumpul (agglomerative).

Ekonomi arus utama berorientasi ekspor, sedangkan ekonomi komunitas berorientasi pasar lokal. Investasi ekonomi komunitas berjangka panjang, sedangkan ekonomi arus utama lebih mementingkan pengembalian modal jangka pendek. Ekonomi arus utama berorientasi pada pertumbuhan, ekstraktif, dan mengalirkannya ke luar sumber daya yang diekstrak. Ekonomi komunitas lebih berorientasi pada vitalitas dan menyirkulasi sumber daya di wilayah lokal.

Ekonomi komunitas adalah milik komunitas dan dikendalikan komunitas. Ekonomi arus utama dimiliki pemodal yang dikelola oleh manajemen dan dikendalikan pemilik modal. Ekonomi komunitas berkelanjutan dari segi lingkungan, mengutamakan etika, harmonisasi dan percaya yang lokal. Sebaliknya, ekonomi arus utama tidak berkelanjutan dari segi lingkungan, terfragmentasi, amoral, dan mengandalkan krisis.

Ekonomi komunitas memanfaatkan sumber daya lokal untuk memenuhi kebutuhan komunitas, bukan untuk memenuhi permintaan pasar yang jauh. Harga komoditas global tidak menentukan produk apa yang akan mereka hasilkan. Tidak seperti bentuk ekonomi sekarang ini. Ketika harga kopi dunia naik, pertani berbondong-bondong menanam kopi. Ketika harga cokelat jatuh, petani menebang pohon kakao mereka.

Richard Douthwaite mencirikan ekonomi komunitas, terkait dengan kelestarian lingkungan, harus berkelanjutan dengan memanfaatkan sumber daya alam sebatas kebutuhan komunitas, dan setiap siklus produksi bisa bertahan lebih dari 100 tahun tanpa merusak ekologi. Ekonomi komunitas tidak bisa mengandalkan pertumbuhan ekonomi untuk mempertahankan kesejahteraan.

Apakah mungkin ekonomi komunitas? Masyarakat Baduy adalah bukti praktik ekonomi komunitas. Komunitas Baduy memenuhi kebutuhan hidup tanpa bergantung pada ekonomi di luar komunitas.

Dalam format yang lebih maju adalah kelompok gerakan petani organik. Mereka berupaya memenuhi lebih dahulu kebutuhan sendiri. sisa penenan barulah dibarter atau dijual ke komunitas konsumen.

Memang bentuk ekonomi komunitas tidak bisa murni seperti yang dipraktikkan komunitas Baduy. Bagaimanapun, setiap komunitas masih akan bergantung pada komunitas lainnya. Hal paling mendasar yang barus dipenuhi komunitas pelaku ekonomi komunitas adalah kebutuhan akan pangan. Lalu, dalam skala kecil, komunitas-komunitas bisa saling mendukung. Untuk satu produk tertentu, komunitas A adalah produsen. Tetapi untuk produk lainnya, komunitas A adalah konsumen.

Ekonomi komunitas sangat pas untuk masyarakat Indonesia, yang terdiri dari komunitas-komunitas. Ketika masyarakat tidak bisa menunggu kesejahteraan yang dijanjikan negara (pemerintah), menentukan nasib sendiri melalui ekonomi komunitas memberikan kepastian kehidupan yang lebih baik.

(Tulisan ini dimuat di Majalah Gatra, No 35 Tahun XV, 9-15 Juli 2009)

(8c) Gatra Ekonomi Komunitas

Written by Harry Surjadi

8 January 2013 at 16:29

Kehidupan Setelah Minyak Bumi Habis

leave a comment »

Setiap detik kehidupan sehari-hari kita – mahluk hidup – membutuhkan, mengonsumsi, dan mengeluarkan energi. Pergi dan pulang kantor, kita butuh energi. Ruang kerja di kantor menggunakan energi. Piranti elektronik di rumah – televisi, radio, microwave, tape recorder, laptop komputer – membutuhkan energi agar bisa dimanfaatkan. Memasak makan malam, butuh energi.

Sumber energi kita berasal dari makanan yang masuk ke dalam tubuh. Berapa banyak energi yang kita butuhkan akan sangat tergantung dari apa yang kita konsumsi dan gaya hidup kita.

Sepotong rendang daging sapi yang tersedia di piring makan di rumah Anda di Jakarta membutuhkan energi berbeda-beda jumlahnya. Semakin jauh letak peternakan sapi, semakin banyak energi yang dibutuhkan. Sepotong daging rendang sapi dari Australia membutuhkan lebih banyak energi untuk membawanya ke Jakarta dibandingkan sepotong daging rendang sapi dari Bali.

Demikian juga air yang kita minum. Ketika meminum teh hangat kita mengonsumsi lebih banyak energi dibandingkan meminum air putih suhu ruangan. Lebih banyak lagi energi yang kita konsumsi ketika kita meminum minuman ringan dalam kaleng.

Mandi dengan air panas lebih banyak energi dibandingkan mandi air suhu ruang. Pergi ke kantor menggunakan mobil sendiri (dan sendiri di mobil) membutuhkan lebih banyak energi dibandingkan naik kereta listrik atau bus umum atau naik sepeda.

Ada tiga jenis energi dalam sudut pandang pemanfaatannya. Pertama sumber energi utama (primary energy) yaitu sumber energi yang belum diproses. Sumber energi utama misalnya minyak mentah, panas bumi, batu bara, angin, sinar matahari.

Kedua, energi akhir (final energy) yaitu energi dalam bentuk yang bisa dimanfaatkan manusia. Energi akhir ini misalnya bensin, minyak tanah, solar, LPG, listrik, air panas yang berasal dari panas bumi.

Ketiga, energi efektif (effective energy) yaitu energi hasil pemanfaatan energi akhir dalam bentuk yang berguna seperti cahaya, gerak kendaraan bermotor, panas radiator.

Sumber energi utama ini bisa dibagi ke dalam dua golongan yaitu: 1) energi yang tidak terbarukan dan 2) energi yang terbarukan. Energi tidak terbarukan antara lain minyak bumi, gas alam, batu bara, dan uranium (energi nuklir). Energi terbarukan antara lain biomassa, energi gerak air, panas bumi, angin, sinar matahari, ombak laut.

Selama ini pasokan energi kegiatan manusia Indonesia terutama dari energi tidak terbarukan yaitu minyak bumi, batu bara, dan gas bumi. Data Ditjen Migas menunjukkan konsumsi BBM tahun 2011 mencapai 394 juta barel dan LPG (yang juga berasal dari minyak bumi) sebanyak 56 juta SBM (setara barel minyak). Produksi BBM dalam negeri 239 juta barel. Indonesia mengimport BBM dari sembilan negara sebanyak 96 juta barel pada tahun yang sama. Konsumsi BBM grafiknya naik terus. Padahal, berdasarkan perkiraan, Indonesia memiliki cadangan minyak bumi sebanyak 7,73 miliar barel.

Sebagian sumber energi adalah baru bara. Konsumsi batu bara antara 75-80 juta ton untuk pembangkit listrik tenaga uap. Meskipun jumlah cadangan batu bara Indonesia 6,7 miliar ton, tetap saja satu saat akan habis juga.

Satu hari nanti minyak bumi dan batu bara akan habis, dan juga sumber energi tidak terbarukan lainnya, seperti gas alam. Bagaimana kita menghadapi habisnya sumber energi tidak terbarukan ini?

Ada tiga upaya sebagai persiapan menyongsong “kehidupan setelah minyak bumi habis” yaitu: 1) mengonservasi energi; 2) efisiensi energi; dan 3) memanfaatkan sumber energi terbarukan.

Konservasi

Energi ketika digunakan sebenarnya tidak habis atau hilang. Habis atau hilang adalah istilah sehari-hari untuk menggambarkan satu bentuk energi berubah menjadi energi lainnya. Misalnya, bensin yang dibakar di dalam mesin mobil berubah dari energi dalam bentuk kimia cair menjadi bentuk energi panas dan gerak. Jadi sebenarnya kita tidak bisa menabung energi, yang bisa adalah mengubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi bermanfaat lainnya.

Konservasi energi – menurut pendapat awam – adalah menghemat energi meskipun kurang tepat.  Bagaimana menggunakan sedikit mungkin sumber energi utama yang akan habis ini tanpa mengurangi tujuan. Konservasi energi adalah satu upaya perencanaan pemanfaatan energi sehemat mungkin. Berangkat ke kantor naik sepeda bukan naik mobil pribadi sendiri adalah bentuk konservasi energi.

Dalam bentuk lebih rumit, konservasi energi adalah upaya mengurangi terbuangnya energi dalam bentuk energi yang tidak dimanfaatkan. Misalnya, mengurangi terbuangnya energi panas yang dihasilkan dari pembakaran bensin di dalam mesin mobil.

Manfaat lain dari konservasi energi adalah baik untuk lingkungan, misalnya polusi udara lebih sedikit dan mengurangi dampak lingkungan, terutama hutan dan keanekaragaman hayatinya, ketika mengeksploitasi sumber energi utama.

Efisiensi

Sering konservasi energi dan efisiensi energi digunakan bergantian dengan makna yang sama. Efisiensi energi menjelaskan hubungan antara aktivitas dengan penggunaan energinya. Misalnya, menggunakan lampu LED lebih efisien untuk penerangan dibandingkan menggunakan lampu pijar karena untuk menghasilkan kecerahan yang sama lampu pijar membutuhkan energi listrik yang lebih besar dibandingkan lampu LED.

Pemerintah sudah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi. Pasal 1 Ayat 1 PP 70/2009 mendefinisikan “konservasi energi adalah upaya sistematis, terencana, dan terpadu guna melestarikan sumber daya energi dalam negeri serta meningkatkan efisiensi pemanfaatannya.

Yang terbarukan

Memanfaatkan energi terbarukan secara esensi adalah bagian dari konservasi energi sebagai konsekuensi menghemat energi yang tidak bisa diperbaharui. Indonesia memiliki potensi besar sumber energi terbarukan. Total listrik yang bersumber dari energi terbarukan berasal dari tenaga air dan panas bumi tahun 2009 mencapai 8.761 MW dan yang berasal dari bahan bakar nabati sebanyak 2.774.000 kilo liter.

Potensi energi terbarukan Indonesia, menurut Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Djadjang Sukarna, cukup untuk 100 tahun (Kompas.com, 23 November 2012).

Indonesia, berdasarkan data Energici Holding Inc. dari Kanada, tahun 2011 Indonesia menggunakan energi terbarukan gabungan biomassa, geotermal, hidroelektrik, sinar matahari, dan angin, sebesar 6.049 megawatts. Di antara negara di Asia, Indonesia no 5 dan di dunia no 29 diukur dari jumlah pemanfaatan energi terbarukan. Indonesia dibawah Pakistan. Bandingkan dengan Cina – negara no 1 pengguna energi terbarukan – yaitu 301.440 megawatts, 50 kali lebih besar dari Indonesia.

Ikut andil

Marilah kita ikut andil dalam konservasi energi, efisiensi energi, dan memanfaatkan energi terbarukan. Sekecil apa pun tindakan kita akan sangat membantu mengonservasi dan efisiensi energi.

Mulailah hemat energi dengan hemat air saat mandi dengan tidak mandi air hangat dan menggunakan shower. Ganti lampu pijar dengan lampu TL. Cabut kabel listrik peralatan elektronik dari sumber listrik dan matikan lampu sebelum tidur dan ketika tidak digunakan. Lebih baik pakaian dijemur daripada menggunakan pengering di mesin cuci. Manfaatnya terasa di akhir bulan ketika membayar tagihan listrik.

Ke kantor naik kendaraan umum atau sepeda. Jika tidak mungkin, upayakan berangkat bersama kawan lainnya di dalam satu mobil (carpooling), pastikan rute terdekat dari rumah ke kantor (ecodriving). Memanfaatkan cahaya alami untuk penerangan, pastikan suhu ruang berpendingin rata-rata 26 derajat Celsius, kenakan pakaian berbahan tipis dan tetap formal, matikan komputer dan lampu usai jam kerja, hemat kertas membantu hemat energi juga.

Mulailah mengonservasi energi dan efisiensi energi pada hari ini. Jangan ditunda lagi. Konservasi dan efisiensi energi bukan berarti membuat hidup ini menjadi tidak nyaman. Malah mengupayakan konservasi dan efisiensi membuat hidup lebih baik karena polusi berkurang, tubuh lebih sehat, hubungan sosial lebih baik, dan rekening listrik lebih rendah.

Written by Harry Surjadi

26 December 2012 at 15:53

%d bloggers like this: